February 4, 2026

LOKAL TIMES

Update Terus, Gak Ketinggalan Zaman!

Listrik Mati Lebih Nyata: Warga Ukraina Skeptis Terhadap Dorongan Damai AS

DI tengah hantaman musim dingin yang menusuk tulang dan rentetan serangan rudal Rusia yang terus-menerus menargetkan infrastruktur penting, perhatian utama warga Ukraina kini bergeser dari dinamika diplomatik internasional ke perjuangan sehari-hari untuk bertahan hidup. Dorongan perdamaian dari Amerika Serikat, yang dulu mungkin dianggap sebagai harapan, kini sering kali dipandang sebagai “kebisingan” yang tidak relevan di tengah kegelapan akibat pemadaman listrik massal.

Perang skala penuh yang dilancarkan Rusia sejak Februari 2022 telah memasuki fase brutal yang menargetkan kemampuan Ukraina untuk menjaga warganya tetap hangat dan terang. Gelombang serangan udara bertubi-tubi telah melumpuhkan sebagian besar jaringan energi negara itu, menyebabkan jutaan orang hidup dalam kondisi tanpa listrik, pemanas, dan air bersih selama berjam-jam, bahkan berhari-hari. Realitas pahit inilah yang membentuk pandangan skeptis mereka terhadap proses perdamaian yang terasa jauh dari kenyataan di lapangan.

Prioritas Mendesak: Ancaman Gelap dan Dingin

Bagi warga sipil di kota-kota besar maupun kecil di seluruh Ukraina, pemadaman listrik bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan ancaman eksistensial. Suhu di bawah nol derajat Celcius membuat rumah-rumah menjadi sangat dingin, membahayakan kesehatan lansia, anak-anak, dan mereka yang rentan. Rumah sakit berjuang keras untuk menjaga operasi penting tetap berjalan, sementara bisnis lumpuh dan kehidupan sehari-hari terhenti.

Kondisi ini menciptakan prioritas yang jelas dan tak terelakkan: listrik. Lebih dari sekadar keinginan, listrik adalah kebutuhan dasar untuk bertahan hidup, menjaga komunikasi, dan mempertahankan fungsi masyarakat yang minimal. Dalam konteks ini, diskusi diplomatik tentang gencatan senjata atau negosiasi jangka panjang terasa seperti kemewahan yang tidak bisa mereka sanggupkan atau pahami sepenuhnya.

“Kami tidak peduli dengan negosiasi tingkat tinggi di ibu kota jauh sana,” ujar Oksana Kovalenko, 45 tahun, seorang guru dari Kyiv, dengan nada lelah pada 12 December 2025. “Yang kami inginkan adalah listrik menyala, air mengalir, dan rumah kami tidak dibombardir. Itulah perdamaian yang sesungguhnya bagi kami, bukan sekadar kata-kata di meja perundingan.”

Komentar Kovalenko mencerminkan sentimen yang meluas di kalangan warga Ukraina. Mereka mengapresiasi dukungan internasional, namun merasa bahwa upaya diplomatik sering kali gagal menangkap urgensi dan kedalaman penderitaan yang mereka alami setiap hari. Fokus pada kelangsungan hidup menjadi jauh lebih dominan daripada harapan samar akan terobosan diplomatik.

Ketika Diplomasi Menjadi Gema Tanpa Arti

Selama bertahun-tahun, Ukraina telah menyaksikan “tarian” rumit para pemimpin mereka di panggung internasional, mencoba menyeimbangkan kepentingan nasional dengan tekanan dari kekuatan global. Banyak yang memahami perlunya diplomasi dan upaya untuk meredakan ketegangan. Namun, putaran demi putaran pembicaraan, pertemuan puncak, dan pernyataan bersama yang sering kali tidak menghasilkan perubahan signifikan di lapangan, telah menumbuhkan kelelahan dan sinisme.

Dorongan perdamaian yang datang dari Amerika Serikat, meskipun niatnya baik, seringkali disambut dengan keraguan. Sejarah perjanjian Minsk yang gagal, di mana gencatan senjata tidak pernah benar-benar bertahan dan wilayah terus diduduki, meninggalkan luka mendalam dan kurangnya kepercayaan terhadap proses semacam itu. Warga Ukraina percaya bahwa perdamaian sejati hanya bisa dicapai jika Rusia menarik pasukannya sepenuhnya dan menghormati kedaulatan mereka, bukan melalui kompromi yang dirasa menguntungkan agresor.

Perbedaan antara retorika diplomatik dan realitas medan perang sangat mencolok. Ketika para pejabat di Washington atau ibu kota Barat lainnya berbicara tentang “jalan menuju perdamaian,” warga Ukraina menghadapi ancaman serangan baru, mengais-ngais generator, dan mencari cara untuk menjaga anak-anak mereka tetap hangat di tengah kegelapan. Jeda atau gencatan senjata yang tidak diikuti dengan penarikan pasukan Rusia secara penuh sering dianggap sebagai kesempatan bagi Moskow untuk regroup dan melancarkan serangan baru.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan krusial tentang efektivitas diplomasi tanpa tekanan militer dan dukungan berkelanjutan yang kuat. Bagi warga Ukraina, solusi tidak terletak pada pembicaraan yang tak berujung, melainkan pada penguatan pertahanan, pemulihan infrastruktur, dan jaminan keamanan yang nyata dan tak terbantahkan di masa depan.


Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda