January 15, 2026

LOKAL TIMES

Update Terus, Gak Ketinggalan Zaman!

Eskalasi Ketegangan: China Lakukan Simulasi Blokade Militer Besar-besaran di Sekitar Taiwan

Ketegangan di Selat Taiwan kembali memuncak saat Tiongkok, pada 30 December 2025, terus melanjutkan latihan militer skala besar di sekitar pulau berdaulat tersebut. Dengan pengerahan pesawat pengebom dan tembakan artileri jarak jauh, Beijing secara terang-terangan menunjukkan kemampuannya untuk mengklaim dan menguasai Taiwan, sebuah demokrasi kepulauan, dengan kekuatan militer. Latihan yang telah berlangsung selama beberapa hari ini dianggap sebagai simulasi blokade yang paling ambisius dalam beberapa dekade terakhir, menguji kesiapan Beijing untuk menekan pulau tersebut secara militer.

Inti Latihan Militer dan Tujuannya

Latihan yang dipimpin oleh Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) Tiongkok mencakup manuver udara dan laut yang luas, melibatkan jet tempur, kapal perang, serta peluncuran rudal balistik di area yang sangat dekat dengan perairan dan wilayah udara Taiwan. Zona latihan mencakup area strategis yang mengelilingi Taiwan, secara efektif mensimulasikan pemblokiran akses ke pelabuhan-pelabuhan utama dan mengganggu jalur pelayaran serta penerbangan internasional. Analis militer global menilai bahwa inti dari latihan ini adalah untuk menyimulasikan kemampuan Tiongkok dalam mengisolasi Taiwan, mencegah bala bantuan eksternal, dan pada akhirnya memaksa pulau itu untuk tunduk di bawah kontrol Beijing.

Pihak Beijing menegaskan bahwa latihan ini adalah respons terhadap apa yang mereka sebut sebagai “provokasi” oleh kekuatan eksternal yang mendukung kemerdekaan Taiwan, dan upaya untuk mempertahankan kedaulatan Tiongkok atas Taiwan, yang dianggap sebagai provinsi pembangkang. Para pengamat mencatat bahwa skala dan intensitas latihan kali ini jauh melampaui latihan-latihan sebelumnya, menunjukkan peningkatan keseriusan dalam retorika dan tindakan Beijing untuk mencapai tujuan reunifikasi, bahkan jika itu berarti dengan kekerasan.

Respon Internasional dan Kekhawatiran Regional

Pemerintah Taiwan, meskipun memantau situasi dengan cermat, telah menunjukkan ketenangan seraya menegaskan kesiapan untuk membela diri dari segala bentuk agresi. Presiden Taiwan menekankan pentingnya menjaga status quo dan menolak segala bentuk paksaan yang dapat mengancam kedaulatan dan cara hidup demokratis pulau tersebut. Sementara itu, reaksi internasional bervariasi, namun umumnya dipenuhi dengan kekhawatiran mendalam.

Amerika Serikat, melalui Kementerian Luar Negerinya, menyerukan de-eskalasi dan menegaskan kembali komitmennya terhadap perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan. Negara-negara tetangga seperti Jepang dan Australia juga menyuarakan keprihatinan atas potensi dampak destabilisasi yang dapat ditimbulkan oleh latihan tersebut terhadap keamanan regional dan global.

“Latihan militer Tiongkok ini bukan hanya sekadar unjuk kekuatan, melainkan sebuah pernyataan niat yang serius. Ini adalah demonstrasi kemampuan untuk mengubah secara drastis keseimbangan kekuasaan di Indo-Pasifik, dengan implikasi besar bagi perdagangan global dan keamanan regional.”

Ancaman blokade militer memiliki konsekuensi ekonomi yang sangat besar, mengingat Taiwan adalah pusat vital bagi rantai pasok semikonduktor global. Eskalasi lebih lanjut dapat mengganggu perdagangan maritim, memicu gejolak pasar keuangan, dan memperburuk krisis ekonomi global yang sedang berlangsung. Komunitas internasional mendesak semua pihak untuk menahan diri dan mencari solusi damai melalui dialog, demi menghindari konflik yang dapat meruntuhkan stabilitas global.


Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda