Operasi Militer AS di Venezuela: Maduro Ditangkap, Rezim Goyah
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 03 January 2026 mengumumkan bahwa pasukan AS telah melancarkan “serangan skala besar terhadap Venezuela,” yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Keduanya dilaporkan telah diterbangkan keluar dari negara tersebut.
Pengumuman mengejutkan ini menandai puncak dari berbulan-bulan tekanan intensif yang diberikan pemerintahan Trump terhadap rezim Maduro. Meskipun rincian spesifik mengenai operasi militer tersebut masih samar, pernyataan Gedung Putih mengindikasikan bahwa ini adalah langkah tegas untuk mengatasi krisis politik dan kemanusiaan yang berlarut-larut di negara Amerika Selatan itu.
Latar Belakang Ketegangan yang Memuncak
Sejak lama, Washington telah secara terbuka menyatakan Maduro sebagai diktator, menuduhnya melakukan kecurangan dalam pemilihan, menindas oposisi, dan bertanggung jawab atas krisis ekonomi serta kemanusiaan yang parah di Venezuela. AS telah menjatuhkan sanksi ekonomi berat dan secara terbuka mendukung pemimpin oposisi Juan Guaidó sebagai presiden sementara yang sah.
Namun, langkah militer langsung ini merupakan eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam upaya AS untuk mengganti rezim di Caracas. Tekanan diplomatik dan sanksi yang diterapkan sebelumnya gagal menggoyahkan kekuasaan Maduro, yang masih mempertahankan dukungan dari militer Venezuela dan sekutu internasional seperti Rusia dan Tiongkok. Pemerintah AS telah berulang kali menuduh Maduro terlibat dalam perdagangan narkoba dan kejahatan terorganisir, bahkan sempat menawarkan imbalan jutaan dolar untuk penangkapannya.
Detail Operasi dan Reaksi Awal
Meskipun rincian spesifik mengenai ‘serangan skala besar’ masih samar, para analis menduga operasi tersebut melibatkan intelijen canggih dan kemungkinan pengerahan pasukan khusus AS. Berita penangkapan Maduro, yang telah berkuasa sejak 2013, telah mengguncang Caracas dan komunitas internasional. Ibu kota Venezuela dilaporkan berada dalam kondisi yang tidak menentu, dengan sedikit laporan yang jelas mengenai reaksi langsung dari dalam negara tersebut.
“Ini adalah hari besar bagi kebebasan di Venezuela. Kami tidak akan tinggal diam melihat rakyat Venezuela menderita di bawah tirani,” ujar Presiden Trump dalam sebuah pernyataan singkat kepada pers, tanpa memberikan detail lebih lanjut mengenai lokasi Maduro atau tujuan berikutnya. “Kami telah bekerja untuk ini selama beberapa waktu, dan keadilan akhirnya ditegakkan.”
Seorang pejabat senior Gedung Putih, yang berbicara dengan syarat anonim, mengindikasikan bahwa operasi ini adalah bagian dari upaya yang lebih luas untuk memulihkan demokrasi di Venezuela dan mengatasi masalah stabilitas regional yang disebabkan oleh eksodus massal warga Venezuela dan kebangkitan kelompok kejahatan di perbatasan.
Langkah ini secara signifikan mengubah dinamika politik di Amerika Latin dan akan menjadi ujian berat bagi oposisi Venezuela, yang dipimpin oleh Juan Guaidó, yang sebelumnya diakui oleh AS dan puluhan negara lain sebagai presiden sementara. Reaksi dari negara-negara lain, terutama sekutu regional Venezuela seperti Kuba dan Rusia, sangat dinantikan dan diperkirakan akan beragam, mulai dari kecaman keras hingga dukungan hati-hati. Kekhawatiran terhadap kemungkinan gejolak lebih lanjut dan dampak kemanusiaan tetap menjadi sorotan utama di tengah ketidakpastian ini.
Fokus kini beralih pada bagaimana transisi kekuasaan akan dikelola, siapa yang akan mengisi kekosongan kekuasaan, dan bagaimana AS akan mendukung upaya untuk membangun kembali institusi demokrasi di negara yang kaya minyak namun terpecah belah itu.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda
