Iran Kembali Bergejolak: Menakar Peluang Perubahan di Tengah Gelombang Protes
Sejarah Panjang Pergolakan: Rezim yang Terbukti Tahan Banting
Protes massa bukan fenomena baru di Iran. Sejak Revolusi Islam tahun 1979 yang menggulingkan monarki dan mendirikan Republik Islam, negara ini telah menyaksikan serangkaian gelombang demonstrasi yang mengguncang tetapi pada akhirnya gagal menggoyahkan fondasi rezim teokratik. Dari protes mahasiswa tahun 1999 yang menuntut kebebasan lebih besar, Gerakan Hijau tahun 2009 yang memprotes dugaan kecurangan pemilu, hingga demonstrasi ekonomi berskala nasional pada 2017-2018 dan protes harga bahan bakar pada 2019, pola perlawanan rakyat terhadap pemerintah sering kali berulang.
Setiap gelombang protes memiliki pemicu spesifik, namun akar masalahnya seringkali sama: ketidakpuasan terhadap kondisi ekonomi yang memburuk, pembatasan sosial dan politik, serta korupsi. Pada masa lalu, kekuatan aparat keamanan Iran, terutama Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan milisi Basij, terbukti menjadi benteng utama rezim. Mereka menggunakan kombinasi represi brutal, penangkapan massal, pemadaman internet, dan propaganda untuk membubarkan demonstran dan meredam sentimen anti-pemerintah.
Faktor lain yang turut menjaga stabilitas rezim adalah kurangnya kepemimpinan oposisi yang terorganisir dan terpadu, serta terbatasnya jangkauan geografis beberapa protes yang cenderung terkonsentrasi di kota-kota besar. Pemerintah juga mahir dalam memecah belah gerakan, seringkali menuding kekuatan asing sebagai dalang di balik kekacauan, yang pada gilirannya memobilisasi basis pendukung setianya.
Faktor Pemicu dan Potensi Perbedaan Kali Ini
Meskipun Iran memiliki sejarah panjang dalam menghadapi dan meredam protes, pertanyaan krusial yang muncul pada setiap gelombang adalah: apakah kali ini akan berbeda? Protes yang meletus sejak 16 January 2026 menunjukkan beberapa karakteristik yang mungkin membedakannya dari gelombang sebelumnya, memberikan gambaran yang lebih kompleks tentang potensi perubahan.
Salah satu pemicu utama seringkali berasal dari insiden tertentu yang memicu kemarahan publik, yang kemudian membuka luka lama terkait kebebasan individu, hak asasi manusia, dan kesenjangan ekonomi. Ketidakpuasan yang terakumulasi selama bertahun-tahun akibat sanksi internasional, salah urus ekonomi, inflasi tinggi, dan tingkat pengangguran yang meresahkan, terutama di kalangan pemuda, menciptakan lahan subur bagi pergolakan. Kali ini, partisipasi perempuan dan pemuda dalam skala besar, melintasi batas-batas etnis dan kelas sosial, tampak lebih menonjol, memberikan dimensi baru pada gerakan tersebut.
“Meskipun pola protes di Iran seringkali memiliki benang merah yang sama, akumulasi frustrasi publik, perubahan demografi, dan krisis legitimasi yang semakin mendalam bisa mencapai titik kritis. Namun, kita tidak boleh meremehkan adaptasi dan kekuatan penindasan rezim yang telah teruji. Protes sendiri jarang cukup untuk menggulingkan sebuah rezim; diperlukan perpecahan di dalam elit penguasa atau pengalihan kesetiaan dari aparat keamanan,” ujar Dr. Amin Mansour, seorang analis politik Timur Tengah dari lembaga riset [Nama Lembaga Fiktif].
Dampak pandemi COVID-19 yang memperparah krisis ekonomi dan kepercayaan publik terhadap pemerintah, serta peningkatan penggunaan media sosial sebagai alat koordinasi dan penyebaran informasi, juga bisa menjadi faktor pembeda. Meskipun pemerintah terus berupaya membatasi akses internet, kemampuan untuk mendokumentasikan dan menyebarkan represi secara global berpotensi meningkatkan tekanan internal dan eksternal. Namun, rezim masih memiliki kartu as berupa kesetiaan aparatus keamanannya, kontrol atas media massa nasional, dan pengalaman panjang dalam menekan perbedaan pendapat. Masa depan Iran tetap berada dalam ketidakpastian, tergantung pada dinamika internal antara kekuatan protes dan ketahanan rezim.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda
