Israel Siap Buka Kembali Rafah, Harapan Bantuan Gaza Menyala Kembali
TEL AVIV – Israel telah mengumumkan niatnya untuk membuka kembali penyeberangan perbatasan Rafah yang vital antara Jalur Gaza dan Mesir dalam beberapa hari mendatang. Keputusan ini datang menyusul selesainya operasi pencarian sisa-sisa sandera terakhir di Gaza, sebuah langkah yang dapat meringankan krisis kemanusiaan yang parah di wilayah tersebut di tengah konflik yang berkepanjangan.
Pembukaan kembali Rafah, yang berfungsi sebagai satu-satunya titik masuk dan keluar Gaza yang tidak dikendalikan oleh Israel, sangat dinantikan oleh komunitas internasional dan organisasi bantuan. Penyeberangan ini telah ditutup sejak pasukan Israel mengambil alih sisi Gaza pada awal Mei, memutus jalur kehidupan utama bagi pengiriman bantuan kemanusiaan dan pergerakan warga sipil, termasuk mereka yang terluka parah yang membutuhkan perawatan medis di luar Gaza.
Misi Pencarian Sandera dan Pembukaan Kembali
Penutupan Rafah pada awal Mei merupakan bagian dari operasi militer Israel yang lebih luas di bagian selatan Jalur Gaza, dengan tujuan untuk memberantas infrastruktur kelompok militan Hamas. Sejak saat itu, penyeberangan ini menjadi titik ketegangan, terutama setelah Israel mengumumkan kontrol operasionalnya atas sisi Gaza, yang ditolak oleh Mesir sebagai bentuk pengambilalihan yang melanggar perjanjian sebelumnya.
Juru bicara pemerintah Israel, pada 26 January 2026, menyatakan bahwa pembukaan kembali akan dilakukan setelah misi pencarian dan pemulihan sisa-sisa sandera yang diyakini masih berada di Gaza selesai. Detail mengenai sandera yang dimaksud tidak disebutkan secara spesifik, namun hal ini menyoroti kompleksitas situasi kemanusiaan yang terjalin dengan upaya pembebasan sandera dan operasi militer.
“Pembukaan kembali Rafah adalah langkah krusial, namun ini hanyalah permulaan. Gaza membutuhkan aliran bantuan yang konsisten dan tidak terhalang. Kondisi di lapangan semakin memburuk setiap jam, dan jutaan nyawa bergantung pada akses tanpa batas terhadap makanan, air bersih, dan obat-obatan.”
— Perwakilan Senior PBB untuk Urusan Kemanusiaan
Selama penutupannya, organisasi-organisasi kemanusiaan telah berulang kali menyuarakan kekhawatiran mendalam tentang dampak terhadap warga sipil Gaza yang sudah menderita akibat kekurangan pangan, air, listrik, dan pasokan medis. Penutupan Rafah secara efektif menghentikan pengiriman bantuan melalui Mesir dan memperburuk kondisi kelaparan yang meluas di seluruh wilayah.
Tekanan Internasional dan Mekanisme Pengawasan
Pengumuman Israel datang di tengah meningkatnya tekanan internasional untuk mengizinkan lebih banyak bantuan masuk ke Gaza. Berbagai negara dan lembaga global telah mendesak semua pihak untuk memfasilitasi pengiriman bantuan dan melindungi warga sipil. Negosiasi yang melibatkan Mesir, Israel, dan Amerika Serikat dilaporkan terus berlangsung untuk mencari mekanisme yang dapat diterima semua pihak agar Rafah dapat berfungsi kembali secara penuh.
Meskipun ada pengumuman dari Israel, mekanisme pasti untuk operasionalisasi Rafah masih memerlukan klarifikasi, terutama mengingat penolakan Mesir untuk berkoordinasi langsung dengan Israel di penyeberangan tersebut. Mesir bersikeras bahwa penyeberangan harus dioperasikan oleh otoritas Palestina atau entitas internasional untuk menjamin netralitas dan efektivitas bantuan.
Pembukaan kembali Rafah diharapkan dapat memberikan kelegaan yang sangat dibutuhkan bagi lebih dari dua juta warga Palestina di Gaza, memungkinkan masuknya pasokan vital dan evakuasi medis. Namun, para pengamat menekankan bahwa ini hanyalah salah satu dari banyak langkah yang diperlukan untuk mengatasi krisis kemanusiaan yang mendalam dan berjangka panjang di wilayah yang terkoyak konflik tersebut.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda
