Netanyahu Kritisi Penundaan Senjata AS, Dorong Kemandirian Militer Israel
TEL AVIV – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melontarkan kritik keras terhadap Amerika Serikat pada 29 January 2026, menuduh penundaan pengiriman senjata oleh Washington telah menyebabkan kekurangan amunisi yang berkontribusi pada kematian tentara Israel di Jalur Gaza. Pernyataan kontroversial ini disertai dengan janji Netanyahu untuk secara signifikan mengurangi ketergantungan Israel pada bantuan militer AS di masa depan.
Tuduhan Kekurangan Amunisi dan Dampaknya
Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan secara luas, PM Netanyahu secara eksplisit mengaitkan jeda dalam pengiriman senjata Amerika selama masa jabatan Presiden Joe Biden dengan pasokan amunisi yang tidak memadai di garis depan pertempuran Gaza. Ia menegaskan bahwa situasi ini berdampak langsung pada kemampuan militer Israel dan mengorbankan nyawa prajurit di tengah konflik yang masih berkecamuk.
Konflik di Gaza, yang telah berlangsung sejak Oktober tahun lalu, telah menyaksikan intensitas pertempuran yang tinggi, menuntut pasokan amunisi yang konstan dan besar. Israel, salah satu penerima bantuan militer terbesar dari AS, sangat mengandalkan pasokan senjata canggih dari Washington untuk mempertahankan keunggulan militernya di kawasan tersebut. Tuduhan dari pemimpin Israel ini menandai eskalasi ketegangan publik antara kedua sekutu dekat tersebut.
“Penundaan dalam pengiriman senjata Amerika telah menyebabkan kekurangan amunisi yang signifikan, yang pada gilirannya telah berkontribusi pada kerugian di pihak kami di Gaza,” ujar Netanyahu, menggarisbawahi urgensi masalah pasokan amunisi di medan perang.
Kritik ini muncul di tengah hubungan yang terkadang tegang antara Netanyahu dan pemerintahan Biden, terutama terkait strategi Israel di Gaza dan isu bantuan kemanusiaan. AS sendiri telah mengonfirmasi adanya peninjauan kembali terhadap beberapa pengiriman senjata ke Israel, terutama yang berpotensi digunakan di wilayah sipil padat, sebagai bagian dari upaya menekan Israel untuk mematuhi hukum humaniter internasional.
Janji Kemandirian Militer Israel
Selain menyalahkan AS atas kekurangan pasokan, Perdana Menteri Netanyahu juga menekankan visinya untuk masa depan keamanan Israel yang lebih mandiri. Ia menyatakan tekadnya untuk memperkuat industri pertahanan dalam negeri dan mengurangi ketergantungan strategis pada bantuan asing, khususnya dari Amerika Serikat, yang selama puluhan tahun telah menjadi tulang punggung kekuatan militer Israel.
Langkah ini, jika direalisasikan, akan menandai pergeseran signifikan dalam doktrin pertahanan Israel yang selama puluhan tahun sangat bergantung pada AS sebagai pemasok utama senjata, teknologi, dan dukungan finansial. Rencana untuk mencapai kemandirian militer mencakup peningkatan investasi dalam penelitian dan pengembangan, ekspansi kapasitas produksi domestik, serta diversifikasi sumber pasokan senjata di masa depan. Meskipun demikian, para analis pertahanan memandang bahwa mencapai kemandirian penuh dalam waktu dekat akan menjadi tantangan besar, mengingat skala dan kecanggihan sistem senjata yang dibutuhkan Israel untuk menghadapi ancaman regional yang kompleks.
Pernyataan Netanyahu ini diperkirakan akan memicu diskusi mendalam di Washington tentang sifat dan arah hubungan AS-Israel di tengah tekanan internasional terkait konflik Gaza dan kekhawatiran tentang penggunaan senjata AS. Ini juga dapat memiliki implikasi geopolitik yang lebih luas di Timur Tengah, berpotensi mengubah dinamika aliansi dan keseimbangan kekuatan di wilayah tersebut.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda
