Kesepakatan Historis: Pemerintah Suriah dan Milisi Kurdi Bersatu, Akhiri Ketidakpastian
DAMASKUS, 30 January 2026 – Pemerintah Suriah yang baru, di bawah kepemimpinan Presiden Ahmed al-Sharaa, secara resmi mengumumkan tercapainya kesepakatan krusial dengan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didominasi Kurdi untuk menggabungkan kekuatan mereka. Perjanjian yang telah lama dinantikan ini menandai berakhirnya periode ketidakpastian intens di Suriah timur laut, sebuah wilayah yang selama bertahun-tahun menjadi ajang konflik dan persaingan kekuasaan yang kompleks.
Kesepakatan ini datang hanya beberapa bulan setelah pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Ahmed al-Sharaa berhasil merebut kekuasaan pada Desember 2024, mengubah lanskap politik Suriah secara drastis. Penyatuan kekuatan antara pemerintah pusat dan SDF, yang selama ini menguasai sebagian besar wilayah yang kaya minyak di timur laut, dipandang sebagai langkah signifikan menuju konsolidasi otoritas nasional dan potensi stabilisasi negara yang tercabik perang sipil.
Latar Belakang dan Konteks Politik Baru
Wilayah timur laut Suriah, yang sebagian besar dihuni oleh etnis Kurdi dan komunitas minoritas lainnya, telah menjadi salah satu titik api utama dalam konflik Suriah yang berlangsung selama lebih dari satu dekade. SDF, dengan dukungan dari koalisi pimpinan Amerika Serikat, memainkan peran penting dalam memerangi ISIS namun juga mempertahankan tingkat otonomi yang signifikan dari Damaskus. Ketegangan antara SDF dan pemerintah Suriah seringkali memuncak, menciptakan kerentanan yang dimanfaatkan oleh berbagai aktor regional dan internasional.
Naiknya Ahmed al-Sharaa ke kursi kepresidenan pada akhir tahun lalu telah membuka babak baru dalam politik Suriah. Berbeda dengan rezim sebelumnya, pemerintahan Al-Sharaa tampaknya menunjukkan kemauan untuk mencari solusi internal, termasuk melalui negosiasi dengan kelompok-kelompok yang sebelumnya dianggap oposisi atau entitas terpisah. Kesepakatan dengan SDF ini adalah bukti paling nyata dari perubahan kebijakan tersebut, menandakan keinginan untuk membangun front persatuan dalam menghadapi tantangan domestik dan eksternal.
“Kesepakatan ini bukan sekadar penandatanganan dokumen; ini adalah janji untuk masa depan Suriah yang bersatu, stabil, dan berdaulat,” ujar Presiden Ahmed al-Sharaa dalam pidato yang disiarkan televisi nasional, menggarisbawahi pentingnya momen tersebut.
“Setelah bertahun-tahun perpecahan dan konflik, saatnya kita menyatukan setiap inci tanah dan setiap rakyat Suriah di bawah satu panji nasional. Ini adalah awal dari era baru di mana pembangunan kembali dan kesejahteraan akan menggantikan kehancuran dan ketidakpastian.”
— Presiden Ahmed al-Sharaa
Implikasi dan Tantangan ke Depan
Integrasi milisi SDF ke dalam struktur angkatan bersenjata resmi Suriah diperkirakan akan memiliki implikasi besar. Secara militer, hal ini dapat menciptakan kekuatan pertahanan yang lebih kohesif dan terorganisir, berpotensi lebih efektif dalam menumpas sisa-sisa kelompok ekstremis dan mengamankan perbatasan. Dari sisi politik, kesepakatan ini dapat meredakan ketegangan etnis dan regional, serta membuka jalan bagi distribusi kekuasaan yang lebih inklusif di masa depan.
Namun, jalan menuju integrasi penuh tidak akan mulus. Tantangan besar termasuk bagaimana mengelola kepercayaan yang rapuh antara kedua belah pihak, menyatukan rantai komando, serta menangani demobilisasi atau reintegrasi ribuan pejuang. Selain itu, reaksi dari aktor regional seperti Turki, yang memandang SDF sebagai ancaman keamanan, akan menjadi faktor penting yang harus dipertimbangkan. Pengamat internasional juga akan memantau ketat bagaimana kesepakatan ini memengaruhi dinamika geopolitik di Suriah dan sekitarnya, terutama terkait dengan kehadiran pasukan asing.
Para analis politik Suriah, seperti Dr. Hassan Al-Abdullah dari Universitas Damaskus, menyambut baik langkah ini namun tetap menyerukan kehati-hatian. “Kesepakatan ini adalah fondasi yang kuat, tetapi keberhasilannya akan sangat bergantung pada implementasi yang adil dan transparan. Pemberdayaan komunitas lokal dan jaminan keamanan bagi semua etnis adalah kunci untuk memastikan perdamaian jangka panjang,” ujarnya. Harapan besar kini disematkan pada pemerintahan Al-Sharaa untuk membuktikan bahwa kesepakatan ini bukan hanya solusi sementara, melainkan tonggak sejarah menuju Suriah yang bersatu dan makmur.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda
