February 9, 2026

LOKAL TIMES

Update Terus, Gak Ketinggalan Zaman!

Tekanan AS terhadap Kuba: Ujian Ketahanan Revolusi 67 Tahun

Kuba, sebuah negara kepulauan Karibia, telah teguh di bawah pemerintahan komunis selama 67 tahun, sebuah rekor yang menantang berbagai perubahan geopolitik dan tekanan eksternal. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, ketahanan rezim ini diuji secara signifikan oleh strategi tekanan yang diintensifkan dari Amerika Serikat, khususnya kebijakan yang diperkenalkan pada era pemerintahan Donald Trump.

Pada periode tersebut, administrasi Trump secara agresif memperketat cengkeraman AS terhadap Kuba, dengan salah satu langkah paling krusial adalah memutus pasokan minyak asing yang vital bagi negara tersebut. Langkah ini, di antara sanksi ekonomi lainnya, didasarkan pada keyakinan Washington bahwa tekanan ekonomi yang ekstrem akan menjadi pukulan telak yang akan mengakhiri revolusi komunis Kuba yang telah berlangsung lama.

Para pengamat dan analis politik di Washington saat itu mempertaruhkan bahwa tahun-tahun di bawah tekanan ini akan menjadi masa-masa terakhir bagi pemerintahan Kuba. Strategi “tekanan maksimum” ini dirancang untuk memicu ketidakpuasan internal dan melemahkan kapasitas operasional negara, berharap pada akhirnya akan memicu keruntuhan rezim.

Strategi Tekanan Maksimal Washington dan Dampaknya

Kebijakan yang diperkenalkan pada era Trump menandai pergeseran signifikan dari pendekatan “pencairan” hubungan yang dilakukan oleh pemerintahan sebelumnya. Dengan membatalkan beberapa inisiatif yang memungkinkan pelonggaran sanksi, Washington kembali menerapkan garis keras terhadap Havana.

Pemutusan pasokan minyak asing, khususnya dari Venezuela yang merupakan sekutu dekat Kuba, memiliki konsekuensi yang sangat serius. Ekonomi Kuba sangat bergantung pada impor minyak untuk kebutuhan energi, transportasi, dan pertanian. Dampak langsung terlihat pada kekurangan bahan bakar yang meluas, memengaruhi segala aspek kehidupan sehari-hari mulai dari layanan transportasi umum hingga operasional pabrik dan pertanian.

“Strategi pemutusan pasokan minyak adalah pukulan langsung ke jantung ekonomi Kuba. Washington yakin bahwa dengan membatasi akses ke sumber daya vital ini, mereka dapat menciptakan krisis yang tak tertahankan bagi rezim,” kata Dr. Elena Rodriguez, seorang pakar hubungan internasional dari Universitas Georgetown, pada 08 February 2026. “Namun, sejarah menunjukkan bahwa rezim Kuba memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa terhadap tekanan eksternal.”

Selain minyak, sanksi juga menargetkan sektor pariwisata dan pengiriman uang, dua sumber pendapatan devisa utama bagi Kuba. Pembatasan perjalanan warga AS ke Kuba dan pembatasan jumlah pengiriman uang dari diaspora Kuba di AS semakin mempersempit ruang gerak ekonomi negara tersebut. Akibatnya, rakyat Kuba menghadapi kesulitan yang meningkat, dengan antrean panjang untuk kebutuhan pokok dan inflasi yang merajalela.

Ketahanan Rezim dan Prospek Masa Depan

Meskipun menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya, rezim komunis Kuba menunjukkan ketahanan yang mengejutkan. Kekuatan utama mereka terletak pada kontrol internal yang ketat, ideologi yang mengakar kuat, dan narasi anti-imperialis yang telah lama mereka gunakan untuk menyatukan rakyat melawan “musuh eksternal” yaitu Amerika Serikat. Pemerintah sering kali menggunakan embargo AS sebagai kambing hitam untuk masalah ekonomi domestik, yang pada gilirannya dapat memicu sentimen nasionalistik di kalangan sebagian penduduk.

Selain itu, Kuba juga mencari dukungan dari negara-negara lain, seperti Rusia dan Tiongkok, yang telah meningkatkan investasi dan perdagangan dengan Havana. Hubungan ini memberikan jalur alternatif bagi Kuba untuk mengakses sumber daya dan pasar, meskipun tidak sepenuhnya dapat menggantikan kebutuhan yang diputus oleh sanksi AS.

Pada 08 February 2026, pertanyaan besar yang masih menggantung adalah apakah tekanan AS yang intens, yang sebagian besar diwariskan dari kebijakan era Trump, pada akhirnya akan berhasil menggulingkan pemerintahan komunis Kuba. Sejarah menunjukkan bahwa rezim tersebut telah selamat dari berbagai ancaman, mulai dari Invasi Teluk Babi hingga runtuhnya Uni Soviet yang merupakan penyokong utamanya.

Prospek masa depan Kuba tetap tidak pasti. Dengan kebijakan AS yang berfluktuasi antara engagement dan konfrontasi, serta dinamika internal yang terus berkembang, ketahanan revolusi Kuba selama 67 tahun akan terus diuji. Apakah strategi tekanan maksimum Washington akan menjadi katalisator perubahan atau justru memperkuat tekad rezim untuk bertahan, hanya waktu yang akan menjawab.


Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda