January 15, 2026

LOKAL TIMES

Update Terus, Gak Ketinggalan Zaman!

Bondi: Dari Solidaritas Nasional Menuju Polarisasi Politik Sengit

Peristiwa tragis penyerangan di Bondi Junction, yang mengejutkan seluruh Australia, semula memicu gelombang solidaritas nasional yang kuat. Pasca-tragedi mengerikan minggu lalu, para pemimpin dari berbagai spektrum politik segera menyampaikan belasungkawa dan menyerukan persatuan. Ini adalah respons yang lazim di Australia, di mana biasanya ada kecenderungan kuat bagi para pemimpin untuk mengesampingkan perbedaan dan bersatu menghadapi malapetaka, sebuah karakteristik yang dihormati dalam tradisi politik negara ini.

Solidaritas yang Berumur Pendek

Namun, momen kebersamaan dan konsensus tersebut tampaknya berumur pendek. Hanya dalam hitungan hari, iklim politik di Canberra dan di seluruh negeri bergeser secara dramatis dari empati kolektif menjadi pertikaian partisan yang pahit. Retorika politik yang tajam, saling tuding, dan upaya untuk memanfaatkan sentimen publik demi keuntungan politik mulai mendominasi wacana, menimbulkan pertanyaan serius tentang stabilitas tradisi persatuan Australia pasca-krisis.

Alih-alih mempertahankan front persatuan, arena politik justru menyaksikan serangkaian serangan dan balasan dari berbagai pihak. Kritik diarahkan pada respons pemerintah, langkah-langkah keamanan sebelumnya, dan bahkan spekulasi mengenai akar penyebab insiden. Kondisi ini sangat kontras dengan respons kolektif yang terlihat pada bencana alam besar seperti kebakaran hutan atau banjir, atau bahkan serangan teror sebelumnya, di mana para pemimpin umumnya berupaya menampilkan citra persatuan dan tekad bersama.

Mengapa Partisanisme Kali Ini Berbeda?

Secara historis, Australia memiliki rekam jejak yang kuat dalam mengesampingkan perbedaan politik saat menghadapi krisis besar. Baik selama perang, bencana alam, atau bahkan serangan teroris di masa lalu, konsensus nasional seringkali menjadi prinsip panduan. Namun, insiden di Bondi Junction, yang oleh beberapa pihak disebut sebagai serangan teror, telah memicu reaksi yang berbeda dan lebih terpolarisasi. Para pengamat berpendapat bahwa sifat serangan, yang melibatkan isu keamanan nasional, radikalisasi, dan perlindungan komunitas, mungkin telah memicu respons politik yang lebih cepat dan intens, jauh dari upaya kolektif.

Seorang analis politik senior dari Universitas Sydney, Dr. Eleanor Vance, menyatakan kekecewaannya terhadap perkembangan ini.

“Sungguh disayangkan melihat bagaimana tragedi yang seharusnya menyatukan kita malah menjadi panggung bagi pertarungan politik. Ini mengikis kepercayaan publik pada kepemimpinan di saat paling rentan, dan jauh dari citra Australia yang bersatu dalam menghadapi kesulitan,” kata Dr. Vance.

Polarisasi yang cepat ini berisiko mengalihkan fokus dari proses pemulihan yang krusial bagi para korban, keluarga, dan komunitas yang berduka. Energi yang seharusnya disalurkan untuk mencari solusi konstruktif dan dukungan psikologis bagi mereka yang trauma, kini terpecah belah oleh perdebatan politik. Ini juga dapat menghambat kemampuan pemerintah untuk merespons secara efektif dan komprehensif terhadap tantangan keamanan yang mungkin muncul di masa depan, karena setiap langkah berpotensi diwarnai oleh motif politik.

Pada 23 December 2025, Australia menemukan dirinya di persimpangan jalan pasca-tragedi. Pertanyaan besar yang kini dihadapi adalah apakah para pemimpin politik akan mampu meredakan ketegangan, mengesampingkan perbedaan, dan mengembalikan fokus pada kebutuhan bangsa, ataukah polarisasi ini akan terus membayangi upaya penyembuhan dan persatuan nasional. Momen ini menjadi ujian bagi karakter politik Australia dan kapasitasnya untuk bersatu di tengah kesulitan.


Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda