January 15, 2026

LOKAL TIMES

Update Terus, Gak Ketinggalan Zaman!

Dokumen dan Kesaksian Ungkap Operasi Penyembunyian Kejahatan Perang Rezim Assad

Sebuah investigasi mendalam, berdasarkan ribuan dokumen internal dan kesaksian dari mantan pejabat era Assad, telah mengungkap jaringan sistematis yang dirancang untuk menyembunyikan bukti-bukti kekejaman dan kejahatan perang yang dilakukan oleh rezim Suriah selama konflik saudara yang brutal. Temuan-temuan ini, yang dipublikasikan pada 30 December 2025, memberikan gambaran terperinci tentang bagaimana pemerintah Presiden Bashar al-Assad berupaya keras untuk menghapus jejak kejahatan, memanipulasi catatan, dan membungkam saksi.

Laporan yang disusun oleh Syrian Accountability Project, sebuah konsorsium jurnalis investigasi dan organisasi hak asasi manusia internasional, menyoroti skala dan sifat terpusat dari operasi penyembunyian ini. Sejak awal konflik pada tahun 2011, ketika protes damai berubah menjadi perang saudara berskala penuh, rezim Assad dituduh melakukan berbagai pelanggaran hak asasi manusia, termasuk pembunuhan massal, penyiksaan, dan penggunaan senjata kimia. Kini, bukti baru menunjukkan bahwa upaya untuk menutupi kejahatan ini adalah bagian integral dari strategi perang mereka.

Mekanisme Penyembunyian Kejahatan: Jaringan Terselubung Rezim

Dokumen-dokumen yang bocor, meliputi surat perintah militer, memo internal dari kementerian intelijen, catatan rumah sakit, dan laporan investigasi lapangan, secara kolektif melukiskan gambaran mengerikan tentang koordinasi tingkat tinggi dalam upaya penyembunyian. Para pejabat disinyalir diperintahkan untuk menghancurkan bukti fisik, memalsukan laporan kematian, dan mengubah narasi peristiwa untuk menghindari pertanggungjawaban.

Salah satu modus operandi yang paling mencolok adalah manipulasi catatan kematian dan pemakaman. Dokumen menunjukkan adanya instruksi untuk menguburkan korban secara diam-diam di lokasi yang tidak ditandai atau memindahkan jenazah dari kuburan massal yang diketahui untuk mengaburkan jumlah korban. Kesaksian mantan pejabat mengungkapkan bahwa unit khusus ditugaskan untuk tugas-tugas ini, beroperasi di bawah selubung kerahasiaan ketat.

“Kami diperintahkan untuk memastikan tidak ada jejak yang tertinggal. Mayat-mayat harus menghilang, catatan harus dimanipulasi, dan setiap pertanyaan harus dibungkam. Ini adalah operasi yang sistematis dan terpusat dari eselon tertinggi,” ujar seorang mantan perwira intelijen Suriah yang identitasnya dirahasiakan, dikutip dalam laporan tersebut.

Selain penghancuran bukti fisik, laporan itu juga merinci bagaimana rezim secara aktif memalsukan dokumen, seperti sertifikat kematian, untuk mengklaim bahwa korban meninggal karena sebab alami atau dalam pertempuran dengan kelompok teroris, padahal sebenarnya mereka tewas dalam tahanan atau akibat serangan rezim. Intimidasi terhadap keluarga korban dan aktivis juga menjadi taktik umum untuk mencegah mereka mencari keadilan atau mengungkapkan kebenaran.

Implikasi Internasional dan Perjuangan Menuju Akuntabilitas

Temuan-temuan ini memiliki implikasi serius bagi upaya internasional untuk mencapai keadilan bagi para korban perang Suriah. Meskipun Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) menghadapi kendala politis dalam menuntut kejahatan di Suriah, laporan seperti ini memberikan dasar yang kuat bagi investigasi di negara-negara yang memiliki yurisdiksi universal atau melalui mekanisme peradilan hibrida di masa depan.

Beberapa negara Eropa telah mulai menuntut mantan pejabat Suriah yang kini tinggal di luar negeri atas tuduhan kejahatan perang, menggunakan bukti-bukti yang dikumpulkan oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia. Investigasi terbaru ini diharapkan dapat memperkuat kasus-kasus tersebut dan memberikan dorongan baru bagi komunitas internasional untuk mendesak pertanggungjawaban atas kejahatan yang tak terlukiskan di Suriah.

Meskipun jalan menuju keadilan masih panjang dan berliku, Syrian Accountability Project menekankan pentingnya mendokumentasikan setiap kejahatan dan setiap upaya penyembunyian. “Setiap dokumen, setiap kesaksian, adalah langkah kecil menuju kebenaran dan pada akhirnya, keadilan,” kata koordinator proyek. “Penyelubungan kebenaran tidak akan pernah berhasil sepenuhnya di era informasi, dan dunia menuntut pertanggungjawaban atas kekejaman yang telah terjadi.”


Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda