February 19, 2026

LOKAL TIMES

Update Terus, Gak Ketinggalan Zaman!

Janji Damai Sehari Trump Terbentur Realita, Konflik Ukraina Kian Membara

WASHINGTON D.C. – Setahun setelah kembali menjabat di Gedung Putih, upaya Presiden Donald Trump untuk mengakhiri konflik di Ukraina dalam “sehari” menghadapi kenyataan yang pahit. Negosiasi damai yang dipimpinnya kini berlarut-larut, sementara serangan Rusia dan jumlah korban jiwa warga sipil Ukraina justru dilaporkan meningkat tajam. Sebuah janji ambisius yang digaungkan selama kampanye kini diuji oleh kompleksitas medan perang dan meja diplomasi.

Sejak dilantik, Presiden Trump segera memprioritaskan penyelesaian konflik yang telah berlangsung lama ini. Pertemuan tingkat tinggi yang melibatkan perwakilan dari Kyiv dan Moskow telah diselenggarakan di berbagai lokasi, mulai dari Jenewa hingga Ankara. Awalnya, ada harapan bahwa pendekatan langsung dan kekuatan negosiasi Trump dapat memecah kebuntuan. Namun, seiring berjalannya waktu, momentum tersebut tampaknya meredup, digantikan oleh laporan-laporan yang mengkhawatirkan dari zona konflik.

Tantangan Diplomasi di Tengah Eskalasi

Sumber-sumber diplomatik yang dekat dengan perundingan mengindikasikan bahwa titik-titik krusial seperti status wilayah yang diduduki, jaminan keamanan, dan potensi pencabutan sanksi tetap menjadi batu sandungan utama. Masing-masing pihak berpegang teguh pada posisi awal mereka, membuat kemajuan substansial sulit tercapai. Delegasi Ukraina menekankan kedaulatan dan integritas teritorial, sementara Rusia bersikukuh pada “realitas baru di lapangan” dan tuntutan keamanan jangka panjangnya.

Di tengah kebuntuan diplomatik ini, laporan dari garis depan menunjukkan peningkatan intensitas pertempuran. Intelijen Barat, pada 18 February 2026, mencatat lonjakan serangan artileri dan rudal Rusia yang menargetkan tidak hanya posisi militer tetapi juga infrastruktur sipil vital di seluruh Ukraina. Kota-kota besar dan kecil terus menjadi sasaran, memicu kekhawatiran global akan pelanggaran hukum humaniter internasional.

“Mengakhiri konflik sebesar ini, yang berakar pada kompleksitas geopolitik mendalam dan sejarah panjang, membutuhkan lebih dari sekadar upaya sehari. Ini menuntut diplomasi yang berkelanjutan, nuansa, dan kesediaan dari semua pihak untuk membuat konsesi yang sulit. Kita melihat bahwa harapan awal telah bertemu dengan kenyataan yang keras.”

— Dr. Anya Sharma, Analis Kebijakan Luar Negeri di Global Institute for Peace

Dampak Kemanusiaan dan Geopolitik

Peningkatan serangan ini memiliki konsekuensi kemanusiaan yang mengerikan. Jumlah korban jiwa warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, terus bertambah. Organisasi-organisasi bantuan internasional melaporkan peningkatan kebutuhan darurat, dengan jutaan orang masih mengungsi dari rumah mereka. Rumah sakit kewalahan, dan pasokan dasar, seperti listrik dan air bersih, seringkali terganggu di wilayah yang paling parah dilanda.

Di tingkat global, kebuntuan ini telah mengirimkan gelombang kekhawatiran. Para sekutu AS di Eropa dan Asia memantau dengan cermat perkembangan di Washington, menyuarakan keprihatinan tentang dampak yang lebih luas terhadap stabilitas keamanan global. Pasar energi dan komoditas juga menunjukkan volatilitas, mencerminkan ketidakpastian yang terus-menerus. Kegagalan mencapai terobosan damai bukan hanya berdampak pada Ukraina, tetapi juga berpotensi mengukir kembali tatanan geopolitik global.

Presiden Trump dan timnya kini dihadapkan pada tugas yang jauh lebih rumit daripada yang diperkirakan. Harapan akan perdamaian cepat telah memudar, digantikan oleh realitas negosiasi yang melelahkan dan eskalasi di medan perang. Tahun pertama masa jabatan keduanya tampaknya akan dikenang sebagai periode di mana janji besar bertemu dengan tantangan besar, dan jalan menuju perdamaian di Ukraina masih panjang dan berliku.


Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda