Kekacauan Penjara ISIS di Suriah: Ribuan Militan Terancam Bebas Pasca Penarikan Kurdi
Penarikan pasukan yang dipimpin Kurdi dari beberapa wilayah kunci di Suriah timur laut telah menjerumuskan jaringan luas penjara dan kamp tahanan ISIS ke dalam kekacauan parah. Ribuan militan yang ditangkap beserta anggota keluarga mereka, yang sebelumnya berada di bawah kendali kuat sekutu Amerika Serikat tersebut, kini menghadapi masa depan yang tidak pasti, menimbulkan kekhawatiran global akan kemungkinan pelarian massal yang dapat menghidupkan kembali kapabilitas kelompok ekstremis tersebut.
Destabilisasi Sistem Penjara ISIS
Selama bertahun-tahun, Pasukan Demokratik Suriah (SDF), milisi yang dipimpin Kurdi dan menjadi mitra utama Amerika Serikat dalam perang melawan ISIS, telah memikul tanggung jawab besar dalam mengelola dua lusin situs penahanan. Fasilitas-fasilitas ini menampung puluhan ribu anggota ISIS yang ditangkap dan anggota keluarga mereka, termasuk banyak kombatan asing yang berasal dari berbagai negara di seluruh dunia. Sistem yang rumit ini, yang dibangun dengan dukungan dan pengawasan terbatas dari komunitas internasional, berfungsi sebagai benteng terakhir untuk mencegah kebangkitan kembali kelompok teroris tersebut di wilayah tersebut.
Namun, menyusul pergeseran dinamika kekuatan regional dan penarikan sebagian pasukan SDF dari area perbatasan sebagai respons terhadap operasi militer di Suriah utara, kontrol atas fasilitas-fasilitas krusial ini mulai runtuh. Laporan yang muncul sejak 18 February 2026 menyebutkan adanya pelanggaran keamanan, kerusuhan internal, dan bahkan upaya melarikan diri yang berhasil dari beberapa kamp penahanan. Otoritas lokal yang tersisa dilaporkan berjuang mati-matian untuk menjaga ketertiban di tengah kondisi yang semakin tidak menentu dan sumber daya yang terbatas. Penarikan pasukan Kurdi secara efektif menciptakan kekosongan keamanan yang berpotensi dimanfaatkan oleh elemen-elemen ISIS yang masih bersembunyi atau oleh tahanan yang bertekad untuk bebas. Situasi ini diperparah oleh kondisi kemanusiaan yang memprihatinkan di dalam kamp, yang telah lama menjadi sarang ketidakpuasan dan keputusasaan.
Ancaman Kebangkitan ISIS dan Respon Global
Kekacauan yang terjadi di penjara-penjara ISIS tidak hanya menimbulkan krisis kemanusiaan yang mendalam tetapi juga ancaman keamanan global yang signifikan. Para ahli keamanan dan intelijen khawatir bahwa pelarian massal para militan dapat menjadi katalis bagi reorganisasi dan kebangkitan ISIS, sebuah kelompok yang, meskipun telah kehilangan sebagian besar wilayah kekuasaannya, masih memiliki ideologi dan jaringan yang kuat. Kebangkitan kembali ISIS berpotensi memicu gelombang terorisme baru, baik di Timur Tengah yang bergejolak maupun di negara-negara Barat yang pernah menjadi target serangan mematikan.
Kekhawatiran ini telah memicu seruan mendesak dari berbagai pihak internasional agar komunitas global mengambil tindakan segera dan terkoordinasi. Banyak negara menyerukan agar tanggung jawab penahanan para kombatan asing diambil alih oleh kekuatan yang lebih stabil atau agar negara asal mereka bersedia merepatriasi warga negaranya untuk diadili dan direhabilitasi. Namun, solusi konkret masih jauh dari tercapai, menghadapi tantangan hukum, logistik, dan politik yang kompleks.
“Situasi di Suriah utara saat ini adalah bom waktu yang sangat berbahaya dan implikasinya bisa terasa di seluruh dunia,” ujar seorang analis keamanan dari lembaga kajian terkemuka di Jakarta, yang tidak ingin disebutkan namanya karena sensitivitas isu ini, pada 18 February 2026. “Kita berisiko melihat upaya keras selama bertahun-tahun dalam memerangi terorisme buyar hanya karena kekosongan keamanan. Dunia tidak bisa berpangku tangan dan membiarkan krisis ini memburuk.”
Kompleksitas situasi diperburuk oleh ketidakjelasan mengenai siapa yang akan bertanggung jawab penuh atas pengawasan kamp-kamp ini di masa depan, serta kurangnya konsensus internasional tentang strategi jangka panjang untuk menangani para tahanan ISIS. Tanpa koordinasi internasional yang kuat, komitmen jangka panjang, dan pendekatan komprehensif yang tidak hanya berfokus pada aspek militer tetapi juga pada solusi politik, kemanusiaan, dan deradikalisasi, risiko bahwa Suriah akan kembali menjadi lahan subur bagi ekstremisme akan semakin besar, mengancam stabilitas regional dan keamanan global.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda
