Konflik Timur Tengah Memanas: AS dan Israel Lancarkan Serangan Besar ke Iran
Operasi militer skala besar pimpinan Amerika Serikat dilaporkan telah dilancarkan terhadap Iran pada 28 February 2026, dengan Israel turut serta dalam serangan ini. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya bersumpah untuk menghancurkan program nuklir Iran dan melumpuhkan kekuatan militernya. Sebagai respons, Teheran telah berjanji akan membalas, sementara itu, beberapa negara Arab yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS melaporkan telah menjadi sasaran serangan.
Kementerian Pertahanan AS belum memberikan rincian spesifik mengenai sifat atau skala serangan ini, namun sumber-sumber intelijen mengindikasikan bahwa ini adalah operasi terkoordinasi yang menargetkan fasilitas militer dan infrastruktur vital Iran. Deklarasi Presiden Trump untuk menumpas program nuklir dan militer Iran menandai peningkatan signifikan dalam ketegangan yang telah lama membayangi hubungan AS-Iran, yang telah memburuk pasca-penarikan AS dari kesepakatan nuklir Iran (JCPOA) pada tahun 2018.
Laporan mengenai serangan terhadap negara-negara Arab sekutu AS menambah dimensi berbahaya pada konflik ini. Belum jelas apakah serangan tersebut adalah respons langsung Iran atau tindakan oleh kelompok proksi yang beroperasi di wilayah tersebut. Insiden ini menempatkan negara-negara tuan rumah dalam posisi yang sangat sulit, mempertaruhkan keamanan nasional mereka dan stabilitas regional secara keseluruhan.
Ketegangan Regional Memuncak
Ancaman pembalasan dari Iran menimbulkan kekhawatiran besar akan eskalasi lebih lanjut di kawasan Timur Tengah yang sudah bergejolak. Teheran memiliki sejarah panjang dalam menggunakan proksi di Irak, Suriah, Yaman, dan Lebanon, serta memiliki kemampuan untuk mengganggu jalur pelayaran vital melalui Selat Hormuz. Potensi balasan ini dapat mencakup serangan siber, rudal, atau aksi terorisme terhadap kepentingan AS dan sekutunya di seluruh dunia.
Keterlibatan Israel dalam operasi ini menggarisbawahi aliansi strategis antara Washington dan Yerusalem dalam menghadapi apa yang mereka anggap sebagai ancaman eksistensial dari Iran. Namun, langkah ini juga berisiko memicu konflik yang lebih luas yang dapat menarik pemain regional dan internasional lainnya. Para analis memperingatkan bahwa situasi ini dapat dengan cepat lepas kendali, dengan konsekuensi yang tidak terduga bagi stabilitas global.
“Situasi ini adalah bom waktu yang telah lama dinantikan, dan sekarang tampaknya telah meledak. Risiko miskalkulasi dari kedua belah pihak sangat tinggi, dan dampaknya bisa dirasakan jauh melampaui perbatasan regional, berpotensi memicu krisis energi global dan kekacauan pasar finansial,” ujar Dr. Aisha Khan, seorang pakar geopolitik Timur Tengah dari Universitas Nasional.
Respons Internasional dan Dampak Potensial
Komunitas internasional diperkirakan akan segera merespons peningkatan drastis dalam konflik ini. PBB kemungkinan akan menyerukan de-eskalasi segera, sementara kekuatan Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Jerman, yang merupakan penandatangan JCPOA, mungkin akan mencoba memediasi atau setidaknya mengurangi ketegangan melalui jalur diplomatik. Namun, peluang diplomasi tampaknya semakin menipis di tengah gempuran militer dan retorika yang semakin keras.
Di pasar global, kekhawatiran akan kenaikan harga minyak telah mulai terasa, mengingat Iran adalah produsen minyak utama dan terletak di jalur pelayaran vital. Para investor juga bersiap menghadapi gejolak di pasar saham global yang mungkin terjadi akibat ketidakpastian geopolitik yang mendalam ini. Lebih dari sekadar dampak ekonomi, risiko korban sipil dan krisis kemanusiaan di Iran dan negara-negara tetangga juga menjadi perhatian utama.
Seiring berjalannya 28 February 2026, dunia menantikan perkembangan selanjutnya dari konflik yang berpotensi mengubah wajah Timur Tengah ini. Pertanyaannya bukan lagi apakah akan ada konfrontasi, melainkan seberapa luas dan merusak konfrontasi tersebut.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda
