Olimpiade: Cermin Harmoni Semu di Tengah Realitas Geopolitik Penuh Ketegangan
Pesta olahraga akbar empat tahunan, Olimpiade Musim Dingin, bersiap kembali digelar. Dengan upacara pembukaan yang dijadwalkan di Italia, perhelatan ini secara tradisional menjadi simbol persatuan dan kerjasama global. Namun, di tengah hiruk pikuk persiapan yang kini berlangsung pada 06 February 2026, sebuah pertanyaan mendasar menyeruak: Seberapa relevankah idealisme perdamaian dan harmoni Olimpiade di dunia yang kian terpecah belah, di mana tatanan lama seolah tak lagi berlaku?
Fondasi Kerjasama di Era Penuh Gejolak
Sejak didirikan kembali pada akhir abad ke-19 oleh Baron Pierre de Coubertin, Gerakan Olimpiade berakar kuat pada gagasan untuk menyatukan bangsa-bangsa melalui olahraga, melampaui batas-batas politik, ras, dan agama. Visi ini semakin menguat pasca-Perang Dunia, di mana Olimpiade dipandang sebagai oase diplomasi non-politik, tempat para atlet dari berbagai negara dapat berkompetisi dengan semangat fair play dan saling menghormati. Setiap edisi Olimpiade, baik musim panas maupun musim dingin, selalu dinanti sebagai perayaan kemanusiaan, demonstrasi bahwa persaingan yang sehat dapat hidup berdampingan dengan persahabatan global.
Namun, idealisme ini kini diuji. Banyak pengamat dan praktisi hubungan internasional berpendapat bahwa semangat kerjasama yang diemban Olimpiade terasa semakin “sumbang” dengan realitas dunia kontemporer. Krisis geopolitik yang memanas di berbagai belahan dunia, bangkitnya nasionalisme proteksionis, serta pergeseran kekuatan global yang cepat, menciptakan lanskap yang jauh dari bayangan harmoni.
Realitas Geopolitik yang Mengikis Ideal
Tatanan dunia pasca-Perang Dingin, yang cenderung multipolar dan berbasis pada institusi multilateral, kini menghadapi tantangan serius. Konflik regional terus berkobar, ketegangan antar-negara adidaya meningkat, dan isu-isu seperti perubahan iklim hingga pandemi global seringkali gagal ditangani secara kolektif karena kurangnya konsensus. Dalam konteks ini, cita-cita Olimpiade untuk “membangun dunia yang lebih baik melalui olahraga” tampak semakin berat.
Sebagaimana diungkapkan oleh seorang diplomat senior yang enggan disebut namanya:
“Olimpiade menawarkan jeda singkat dari hiruk pikuk politik global, sebuah ilusi persatuan. Namun, begitu api obor padam, kita kembali menghadapi kenyataan pahit bahwa dunia ini lebih terfragmentasi dan penuh ketidakpercayaan dibandingkan sebelumnya. Ideal ‘persatuan tanpa politik’ kini terasa naif.”
Kini, politik seringkali tidak hanya mengintip dari balik tirai, melainkan juga secara terang-terangan ikut campur dalam perhelatan olahraga. Boikot diplomatik, kontroversi terkait hak asasi manusia di negara tuan rumah, dan penggunaan platform Olimpiade untuk agenda politik tertentu semakin sering terjadi, mengikis klaim Olimpiade sebagai acara yang apolitis. Batas antara olahraga dan politik kian kabur, memaksa Komite Olimpiade Internasional (IOC) untuk terus beradaptasi dengan dinamika global yang tak terduga.
Dengan Olimpiade Musim Dingin di Italia yang semakin dekat, dunia kembali akan menyaksikan tontonan spektakuler. Namun, di balik gemerlap upacara dan persaingan atletik yang menegangkan, tersimpan sebuah ironi yang mendalam. Apakah Olimpiade akan tetap menjadi simbol harapan untuk persatuan, ataukah ia hanya akan berfungsi sebagai cermin yang memantulkan ketidakselarasan global, sebuah pertunjukan harmoni yang semakin sulit dipercaya? Pertanyaan ini akan terus menggantung, seiring dunia yang terus berjuang mencari pijakan di antara tatanan lama yang runtuh dan tatanan baru yang belum sepenuhnya terbentuk.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda
