Pakistan Lancarkan Serangan Udara Balasan ke Afghanistan di Tengah Ketegangan Regional
ISLAMABAD, Pakistan – Pakistan melancarkan serangkaian serangan udara ke wilayah Afghanistan pada 27 February 2026, menyusul laporan serangan oleh pasukan Afghanistan terhadap posisi perbatasan Pakistan beberapa jam sebelumnya. Eskalasi militer ini menandai titik terendah dalam hubungan bilateral kedua negara yang telah memburuk selama berbulan-bulan, dengan Islamabad menuding rezim Taliban di Kabul gagal membendung kelompok militan yang beroperasi dari tanah Afghanistan.
Serangan udara tersebut dilaporkan menargetkan lokasi yang diyakini menjadi sarang militan Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP) atau Taliban Pakistan, kelompok teroris yang sering melakukan serangan di wilayah Pakistan. Islamabad telah lama menuduh pemerintah sementara Taliban di Afghanistan memberikan perlindungan kepada TTP, klaim yang berulang kali dibantah oleh Kabul. Insiden terbaru di perbatasan Pakistan-Afghanistan, yang menyebabkan beberapa korban jiwa di pihak Pakistan, tampaknya menjadi pemicu langsung respons militer yang agresif ini.
Kementerian Luar Negeri Pakistan merilis pernyataan yang mengonfirmasi serangan tersebut, menyebutnya sebagai tindakan pertahanan diri yang sah. Pernyataan itu juga menekankan bahwa Pakistan telah berulang kali menyampaikan kekhawatiran tentang penggunaan wilayah Afghanistan oleh kelompok-kelompok teroris dan menyerukan kerja sama yang lebih erat dari pemerintah Taliban untuk mengatasi ancaman ini.
Latar Belakang Ketegangan Regional
Hubungan antara Pakistan dan Afghanistan secara historis penuh dengan ketegangan, terutama terkait dengan isu perbatasan Durand Line yang disengketakan dan tuduhan saling memberikan perlindungan kepada kelompok-kelompok militan. Setelah Taliban mengambil alih kekuasaan di Afghanistan pada Agustus 2021, Pakistan awalnya berharap akan ada peningkatan kerja sama dalam keamanan perbatasan dan penanggulangan terorisme. Namun, harapan itu pupus seiring dengan peningkatan tajam serangan TTP di Pakistan, yang menurut Islamabad didukung dari Afghanistan.
Pemerintah Pakistan berulang kali mengklaim memiliki bukti kuat bahwa para pemimpin TTP dan pejuangnya bersembunyi di Afghanistan dan merencanakan serangan lintas batas dari sana. Tuntutan Pakistan agar Taliban mengambil tindakan tegas terhadap TTP telah diabaikan, menyebabkan frustrasi yang mendalam di Islamabad. Penutupan perbatasan sesekali, bentrokan sporadis, dan retorika yang semakin tajam telah menjadi pemandangan umum dalam beberapa bulan terakhir.
“Kami tidak akan menoleransi siapa pun yang menggunakan wilayah Afghanistan untuk menyerang Pakistan. Tindakan ini adalah respons yang diperlukan untuk melindungi kedaulatan kami dan keselamatan warga kami dari ancaman teroris yang beroperasi dari wilayah Afghanistan. Kami menyerukan kepada otoritas Afghanistan untuk mengambil tindakan tegas terhadap para teroris ini.”
— Pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri Pakistan
Reaksi Internasional dan Potensi Eskalasi
Serangan Pakistan ini memicu kecaman keras dari pemerintah Taliban di Afghanistan. Juru bicara Taliban mengutuk serangan udara tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan dan “tindakan agresi” yang akan memiliki konsekuensi serius. Mereka menuntut penghentian segera semua serangan dan memperingatkan bahwa Afghanistan memiliki hak untuk membela diri.
Komunitas internasional memantau situasi dengan keprihatinan yang mendalam. Sekretaris Jenderal PBB dan berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Tiongkok, telah menyerukan de-eskalasi segera dan dialog untuk menyelesaikan perbedaan. Ada kekhawatiran serius bahwa eskalasi lebih lanjut antara kedua negara bertetangga yang bersenjata nuklir ini dapat destabilisasi seluruh wilayah, memicu krisis kemanusiaan baru, dan menghambat upaya penanggulangan terorisme yang lebih luas di Asia Selatan.
Analis politik dan keamanan memperingatkan bahwa tanpa mediasi internasional yang efektif, ketegangan ini bisa berubah menjadi konflik terbuka yang lebih luas. Pakistan, yang berjuang melawan krisis ekonomi dan politik domestik, akan menghadapi tantangan signifikan jika harus mengalihkan sumber daya untuk konflik perbatasan yang berkelanjutan. Sementara itu, Afghanistan di bawah rezim Taliban yang terisolasi secara internasional juga tidak akan mampu menanggung dampak dari konflik regional.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda
