Penjara ISIS di Suriah Terancam Chaos Pasca Pergeseran Kekuatan Regional
AL-HASAKAH, SURIAH – Sebuah pergeseran kekuatan dramatis di Suriah bagian timur laut telah menjerumuskan sistem penahanan ribuan anggota kelompok teroris ISIS dan keluarga mereka ke dalam kekacauan, memicu kekhawatiran global akan potensi kebangkitan kelompok ekstremis tersebut. Sekutu Amerika Serikat, Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi, yang selama bertahun-tahun mengawasi dua lusin situs penahanan, kini harus mengalihkan fokus dan personel mereka, meninggalkan sistem yang rapuh ini dalam situasi genting.
Hingga saat ini, SDF telah menjadi garda terdepan dalam menjaga ribuan mantan pejuang ISIS, serta istri dan anak-anak mereka, di fasilitas-fasilitas penahanan darurat dan kamp-kamp pengungsian yang tersebar seperti “kepulauan” di wilayah tersebut. Namun, dengan adanya operasi militer di perbatasan dan dinamika geopolitik yang berubah cepat, kemampuan SDF untuk mempertahankan pengawasan ketat terhadap situs-situs ini telah sangat terganggu. Situasi ini menciptakan celah keamanan yang berpotensi dimanfaatkan oleh elemen-elemen ISIS untuk melarikan diri dan mengorganisir kembali diri mereka.
Ancaman Kebangkitan ISIS dari Balik Jeruji
Kondisi yang tidak stabil di wilayah tersebut, diperparah oleh penarikan sebagian pasukan SDF dari penjara dan kamp pengungsian, telah menimbulkan ancaman nyata. Ribuan individu, termasuk militan garis keras yang masih setia pada ideologi ISIS, kini berada dalam situasi pengawasan yang lebih longgar. Beberapa laporan awal menyebutkan insiden percobaan pelarian dan kerusuhan di beberapa fasilitas, mengindikasikan kerapuhan sistem tersebut.
Salah satu kamp paling terkenal, Al-Hol, yang menampung puluhan ribu wanita dan anak-anak yang memiliki ikatan dengan ISIS, telah lama menjadi perhatian internasional karena kondisi kemanusiaan yang buruk dan potensi radikalisasi. Dengan berkurangnya penjaga dan meningkatnya kekacauan, kekhawatiran akan peningkatan aktivitas sel-sel ISIS di dalam kamp, serta rekrutmen baru di antara populasi yang rentan, semakin membesar. Kamp ini telah lama digambarkan sebagai “inkubator” bagi generasi teroris berikutnya, dan kekacauan saat ini hanya memperburuk prediksi suram tersebut.
“Kekacauan di penjara-penjara ini bukan hanya ancaman lokal, tetapi bom waktu global yang dapat meledak kapan saja, menghidupkan kembali jaringan teroris yang sudah melemah,” ujar seorang analis keamanan regional pada 19 February 2026. “Komunitas internasional tidak bisa lagi mengabaikan tanggung jawabnya untuk menemukan solusi jangka panjang.”
Dilema Internasional dan Tanggung Jawab yang Terabaikan
Pergeseran kekuatan ini menyoroti dilema yang lebih besar bagi komunitas internasional. Meskipun Amerika Serikat telah mendesak negara-negara asal untuk merepatriasi warga negaranya yang ditahan di Suriah, responsnya lambat dan terbatas. Banyak negara khawatir akan ancaman keamanan yang ditimbulkan oleh kembalinya individu-individu yang telah terpapar ideologi ekstremis, serta biaya dan tantangan hukum yang terkait dengan penuntutan mereka.
Akibatnya, ribuan pejuang asing tetap ditahan oleh SDF, yang kini berjuang untuk memenuhi komitmen ganda mereka: memerangi sisa-sisa ISIS dan melindungi wilayah mereka sendiri dari ancaman yang berkembang. Kurangnya strategi komprehensif dan koordinasi internasional yang efektif telah menciptakan kekosongan, di mana ancaman ISIS berpotensi bangkit kembali dari reruntuhan kekhalifahan yang pernah mereka proklamasikan.
Situasi genting ini menuntut perhatian segera dari kekuatan global. Tanpa intervensi dan solusi yang terkoordinasi, risiko pelarian massal dari penjara dan kamp, serta reorganisasi ISIS di tengah kekacauan, dapat memicu gelombang terorisme baru yang membahayakan keamanan regional dan global. Masa depan stabilitas di Suriah dan di luar wilayahnya sangat bergantung pada bagaimana dunia menanggapi krisis yang terus memburuk ini.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda
