February 3, 2026

LOKAL TIMES

Update Terus, Gak Ketinggalan Zaman!

Pergeseran Geopolitik: Sekutu AS Mendekat ke Tiongkok dengan Syarat Beijing

Pergeseran Geopolitik: Sekutu AS Mendekat ke Tiongkok dengan Syarat Beijing

Di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks, sebuah fenomena menarik tengah mengemuka: sekutu-sekutu tradisional Amerika Serikat dilaporkan menunjukkan kecenderungan untuk mendekat ke Beijing. Pergeseran ini terjadi justru ketika Tiongkok teguh pada pendiriannya terkait isu hak asasi manusia, perdagangan, dan keamanan, tanpa menunjukkan tanda-tanda kompromi. Perkembangan ini menandai keuntungan diplomatik yang signifikan bagi Tiongkok, yang secara strategis memanfaatkan ketidakpastian yang dirasakan oleh mitra-mitra Washington.

Analisis menunjukkan bahwa pergeseran ini bukan hanya sekadar respons terhadap tekanan ekonomi, melainkan juga cerminan dari strategi diplomatik Beijing yang cerdik serta potensi kekecewaan di kalangan sekutu AS terhadap kebijakan luar negeri Washington belakangan ini. Hal ini menempatkan Amerika Serikat pada posisi yang menantang untuk menegaskan kembali relevansi dan daya tarik aliansi tradisionalnya di tengah lanskap global yang berubah.

Mencari Stabilitas di Tengah Ketidakpastian Washington

Beberapa pengamat politik internasional menilai bahwa kebijakan luar negeri Amerika Serikat, yang terkadang dianggap kurang konsisten atau terlalu fokus pada kepentingan domestik, telah menciptakan celah kepercayaan di antara sekutunya. Keputusan sepihak dalam beberapa isu global, ketegangan perdagangan yang merembet ke negara-negara sahabat, atau bahkan perubahan prioritas keamanan regional, disinyalir telah mendorong negara-negara sekutu untuk mempertimbangkan opsi lain guna menjaga stabilitas dan kepentingan nasional mereka.

Bagi banyak negara, stabilitas ekonomi dan keamanan regional adalah prioritas utama. Ketika Washington dianggap kurang dapat diprediksi, mencari keseimbangan baru dalam hubungan internasional menjadi strategi yang masuk akal. Ini bukan berarti sekutu-sekutu tersebut sepenuhnya berpaling dari AS, melainkan lebih kepada upaya diversifikasi risiko dan pencarian mitra yang dapat menawarkan kepastian dalam pembangunan ekonomi dan jaminan keamanan, meskipun dengan model hubungan yang berbeda.

Ketidakpastian ini dapat berasal dari berbagai faktor, mulai dari pergantian kepemimpinan politik di AS yang sering kali membawa perubahan arah kebijakan drastis, hingga tuntutan yang lebih keras terkait pembagian beban dalam aliansi. Kondisi ini secara tidak langsung membuka pintu bagi Tiongkok untuk menampilkan dirinya sebagai alternatif yang stabil dan menawarkan peluang, terutama di bidang ekonomi.

Daya Tarik Beijing Tanpa Kompromi

Berbeda dengan persepsi ketidakpastian dari AS, Tiongkok dinilai menampilkan citra sebagai kekuatan yang menawarkan peluang ekonomi besar dan kebijakan luar negeri yang relatif konsisten, meskipun dengan syarat-syaratnya sendiri. Yang menarik, pergeseran kedekatan ini terjadi tanpa Beijing melunak pada isu-isu sensitif yang sering menjadi titik friksi dengan Barat. Mulai dari penanganannya terhadap hak asasi manusia di Xinjiang dan Hong Kong, kebijakan perdagangannya yang kontroversial, hingga klaim teritorialnya di Laut Cina Selatan, Tiongkok tetap berpegang teguh pada garis merahnya.

“Tiongkok telah menunjukkan kemampuannya untuk menawarkan insentif ekonomi yang signifikan, bahkan kepada negara-negara yang secara historis terikat pada Washington, tanpa perlu mengubah kebijakannya sendiri dalam isu-isu inti,” ujar Dr. Aisha Rahman, seorang pakar hubungan internasional dari Universitas Nasional Indonesia, kepada [Nama Media] pada 31 January 2026. “Ini adalah demonstrasi kekuatan diplomatik yang cerdas, di mana Beijing berhasil menarik minat sambil tetap mempertahankan kedaulatan atas narasi domestik dan regionalnya.”

Proyek-proyek infrastruktur besar di bawah inisiatif “Belt and Road” (BRI), akses pasar yang luas, dan investasi signifikan, seringkali menjadi daya tarik utama bagi negara-negara yang mencari pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Model “non-intervensi” Tiongkok dalam urusan domestik negara lain juga kerap dipandang lebih menarik oleh beberapa pemimpin negara, terutama mereka yang lelah dengan kritik Barat terkait isu tata kelola dan hak asasi manusia.

Perkembangan ini menggarisbawahi tantangan signifikan bagi strategi aliansi Amerika Serikat di masa depan. Ini juga menegaskan kembali ambisi Tiongkok untuk membentuk tatanan global yang lebih sesuai dengan kepentingannya, bahkan dengan menarik negara-negara yang secara tradisional berada di orbit AS. Washington kini menghadapi tugas berat untuk meredefinisi ulang nilai proposisi aliansinya jika tidak ingin melihat lebih banyak mitranya condong ke arah Beijing, sekalipun dengan syarat-syarat yang tidak selalu menguntungkan.


Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda