Setahun di Bawah Bayangan Trump: Inggris dan Era Ketidakpastian Global
London – Setahun setelah kembalinya Donald Trump ke panggung politik global, pemerintahan pusat-kiri Perdana Menteri Keir Starmer di Inggris dan negara secara keseluruhan menghadapi gelombang tantangan yang signifikan. Meskipun PM Starmer menunjukkan ketegasan dalam isu kedaulatan di Greenland, Inggris terus-menerus diombang-ambingkan oleh gejolak kebijakan dan retorika dari Washington, memaksa London untuk merumuskan ulang strategi diplomatik dan ekonominya dalam lanskap internasional yang semakin tidak pasti.
Dampak Geopolitik dan Kedaulatan di Greenland
Salah satu momen paling menonjol dari tahun yang bergejolak ini adalah sikap tegas Perdana Menteri Keir Starmer mengenai Greenland. Ketika kepentingan strategis di wilayah Arktik—yang kaya akan sumber daya dan memiliki posisi geopolitik krusial—memanas, pemerintahannya dengan tegas membela kedaulatan dan kepentingannya. Langkah ini, yang dilakukan di tengah tekanan internasional dan spekulasi tentang potensi akuisisi atau peningkatan pengaruh negara-negara besar, menunjukkan tekad London untuk tidak tunduk pada kekuatan eksternal.
Peran Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Trump dalam insiden ini digambarkan sebagai ambigu, jika tidak rumit. Sementara secara tradisional AS adalah sekutu kunci Inggris, pendekatan transaksional pemerintahan Trump terhadap diplomasi seringkali menciptakan ketegangan, bahkan di antara mitra dekat. Ketegasan Starmer di Greenland, yang sebagian pihak melihatnya sebagai respons terhadap potensi destabilisasi di kawasan yang strategis, menggarisbawahi upaya Inggris untuk mengamankan posisinya tanpa sepenuhnya bergantung pada dukungan Washington yang tidak pasti.
“Kita harus selalu siap untuk membela kepentingan nasional kita di panggung dunia, tidak peduli seberapa rumit dinamika aliansi kita. Kedaulatan Inggris tidak bisa dinegosiasikan,” tegas Perdana Menteri Keir Starmer dalam pidatonya baru-baru ini, mencerminkan komitmen pemerintahannya terhadap prinsip-prinsip dasar kebijakan luar negeri.
Tekanan Ekonomi dan Pergeseran Aliansi
Selain tantangan geopolitik, Inggris juga merasakan tekanan ekonomi yang signifikan akibat kebijakan Amerika Serikat. Retorika proteksionisme dan ancaman tarif oleh pemerintahan Trump telah menciptakan volatilitas di pasar global, berdampak langsung pada perdagangan Inggris yang sedang berjuang pasca-Brexit. Ekspektasi akan perjanjian perdagangan bebas yang komprehensif dengan AS, yang pernah menjadi pilar argumen pendukung Brexit, kini tampak semakin jauh dari jangkauan, memaksa Inggris untuk mencari pasar dan aliansi dagang baru di tempat lain.
Pemerintahan Starmer dilaporkan semakin mengalihkan fokusnya untuk memperkuat hubungan dengan Uni Eropa, meskipun masih di luar blok tersebut, serta menjajaki peluang di Indo-Pasifik. Ini adalah pergeseran yang mencolok dari dekade-dekade sebelumnya, di mana “hubungan istimewa” dengan AS adalah fondasi utama kebijakan luar negeri Inggris. Namun, dengan hubungan tersebut yang kini berada di bawah tekanan konstan, London terpaksa mempertimbangkan kembali prioritasnya dan mendiversifikasi jejaring diplomatik serta pertahanannya.
Secara internal, tekanan dari Washington juga memicu perdebatan sengit di Westminster. Oposisi Konservatif dan faksi-faksi dalam Partai Buruh sendiri memiliki pandangan yang berbeda tentang cara terbaik untuk menanggapi Trump, mulai dari akomodasi pragmatis hingga penolakan terang-terangan. Ini menciptakan tantangan tambahan bagi Starmer untuk mempertahankan kohesi politik di tengah lingkungan eksternal yang penuh gejolak.
Pada 24 January 2026, satu tahun di bawah bayangan pengaruh Donald Trump telah mengubah wajah diplomasi dan ekonomi Inggris secara mendalam. Pemerintahan Keir Starmer, meskipun berpegang teguh pada prinsip-prinsipnya, harus terus beradaptasi dengan realitas baru ini, menyeimbangkan kedaulatan nasional dengan kebutuhan untuk menavigasi tatanan global yang semakin kompleks dan tidak dapat diprediksi.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda
