February 18, 2026

LOKAL TIMES

Update Terus, Gak Ketinggalan Zaman!

Setahun Kepemimpinan Trump, Konflik Ukraina Kian Berdarah di Tengah Perundingan Damai

Janji Presiden Donald Trump untuk mengakhiri perang di Ukraina dalam sehari telah menghadapi realitas pahit. Setelah setahun kembali menjabat di Gedung Putih, upaya perundingan damai yang digagas oleh pemerintahannya justru diwarnai dengan peningkatan serangan Rusia dan jatuhnya lebih banyak korban sipil Ukraina. Situasi ini menimbulkan keraguan serius terhadap efektivitas pendekatan diplomasi Trump, yang sebelumnya digembar-gemborkan sebagai solusi cepat terhadap salah satu konflik geopolitik paling kompleks di era modern.

Pada awal masa jabatannya kembali, Presiden Trump secara vokal menyatakan keyakinannya bahwa ia memiliki formula unik untuk meredakan ketegangan dan mengakhiri pertempuran yang telah berlangsung bertahun-tahun. Namun, data terbaru menunjukkan bahwa alih-alih mereda, konflik justru menunjukkan tanda-tanda eskalasi, dengan laporan-laporan tentang serangan rudal dan drone yang lebih intensif di kota-kota Ukraina, serta pertempuran sengit di garis depan. Prospek perdamaian yang dijanjikan kini terasa semakin jauh.

Jalan Terjal Diplomasi Tanpa Kemajuan Signifikan

Upaya perundingan damai yang diinisiasi oleh pemerintahan Trump telah tersendat di tengah perbedaan mendasar antara Moskow dan Kyiv. Delegasi dari kedua belah pihak dilaporkan telah bertemu beberapa kali di lokasi netral, termasuk di Timur Tengah dan Eropa, namun tanpa terobosan substansial. Rusia terus menuntut pengakuan atas wilayah-wilayah yang telah dianeksasi secara ilegal, termasuk Krimea dan bagian dari wilayah timur serta selatan Ukraina, serta jaminan netralitas mutlak dari Kyiv tanpa keterlibatan lebih lanjut dengan NATO.

Sebaliknya, Ukraina dengan tegas menolak untuk mengorbankan integritas teritorialnya atau menyerahkan wilayah kedaulatannya. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, terus menegaskan bahwa perdamaian sejati hanya dapat dicapai melalui penarikan penuh pasukan Rusia dari seluruh wilayah Ukraina dan pemulihan batas negara yang diakui secara internasional, serta jaminan keamanan yang kuat dari sekutu. Posisi yang saling bertolak belakang ini telah menjadikan meja perundingan sebagai medan pertempuran retoris, bukan tempat untuk mencapai konsensus yang konstruktif.

Seorang analis geopolitik internasional, yang meminta anonimitas karena sensitivitas isu ini, menyatakan, “Konflik ini telah mencapai titik di mana kedua belah pihak merasa tidak ada jalan lain selain terus berjuang untuk tujuan mereka masing-masing. Perundingan damai tanpa perubahan mendasar dalam dinamika medan perang atau dukungan internasional yang kuat hanya akan menjadi panggung sandiwara yang memperpanjang penderitaan.”

Tekanan dari sekutu Barat juga menjadi faktor rumit. Banyak negara anggota NATO dan Uni Eropa, meskipun mendukung upaya perdamaian, tetap khawatir bahwa kesepakatan yang terburu-buru atau dipaksakan dapat mengorbankan prinsip-prinsip kedaulatan dan hukum internasional, serta memberikan preseden berbahaya bagi agresi di masa depan. Mereka menekankan pentingnya solusi yang adil dan berkelanjutan, bukan sekadar gencatan senjata sementara.

Eskalasi Konflik dan Penderitaan Kemanusiaan yang Memburuk

Sementara perundingan damai terus berlarut-larut tanpa hasil, situasi di lapangan justru semakin memburuk. Laporan dari PBB dan organisasi kemanusiaan independen pada 17 February 2026 menunjukkan peningkatan dramatis dalam jumlah korban sipil Ukraina, dengan ribuan warga sipil tewas atau terluka dalam beberapa bulan terakhir. Infrastruktur kritis, termasuk pembangkit listrik, sistem pemanas, dan fasilitas kesehatan, menjadi target serangan berulang, memperparah krisis kemanusiaan menjelang potensi musim dingin yang keras.

Kota-kota besar dan kecil seperti Kharkiv, Odesa, dan Kyiv kembali menghadapi gelombang serangan rudal dan drone yang menyebabkan kerusakan meluas, memutus pasokan listrik dan air, serta memakan korban jiwa dari warga sipil tak berdosa. Jutaan warga Ukraina tetap mengungsi di dalam dan luar negeri, dengan prospek kepulangan yang semakin suram seiring berlanjutnya pertempuran dan kehancuran kota-kota mereka.

Peningkatan agresi Rusia selama periode perundingan ini telah memunculkan spekulasi bahwa Moskow mungkin menggunakan diplomasi sebagai pengalih perhatian, sementara secara bersamaan berupaya memperkuat posisi militernya di lapangan dan menekan Kyiv untuk menerima tuntutan mereka. Hal ini menempatkan Presiden Trump dalam posisi yang sulit, di mana janji kampanye untuk mengakhiri konflik dengan cepat belum terpenuhi, bahkan sebaliknya, justru berhadapan dengan kenyataan perang yang semakin berdarah.

Pertanyaan besar yang kini menggantung adalah apakah pemerintahan Trump akan mengubah strateginya, ataukah akan terus menempuh jalur diplomasi yang tampaknya tidak membuahkan hasil, sementara rakyat Ukraina terus menanggung beban konflik yang tak kunjung usai. Dunia menanti, akankah ada terobosan ataukah perang ini akan terus memakan korban hingga batas waktu yang tidak ditentukan.


Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda