Situasi Ukraina Kian Genting: Rusia Maju, Putin Tolak Kompromi, Rencana Damai Trump Disorot
KYIV, Ukraina – Situasi di medan perang Ukraina dilaporkan semakin memburuk bagi pasukan Kyiv, seiring dengan kemajuan signifikan yang dicatat oleh militer Rusia di beberapa lini dalam beberapa pekan terakhir. Ketegangan diplomatik juga tak mereda, dengan Presiden Rusia Vladimir V. Putin kembali menegaskan penolakannya terhadap kompromi setelah serangkaian pembicaraan dengan pejabat Amerika Serikat, yang semakin memperumit upaya mencari jalan keluar damai dari konflik yang telah berlangsung lebih dari dua tahun ini.
Perkembangan di garis depan telah menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan sekutu Barat Ukraina, yang melihat pasukan Kyiv menghadapi kekurangan amunisi dan personel. Di sisi lain, sebuah rencana perdamaian yang diusulkan oleh mantan Presiden AS Donald Trump kini menjadi sorotan, menambah lapisan kompleksitas pada lanskap geopolitik yang sudah tegang.
Invasi Rusia Kian Agresif, Kyiv Terdesak
Laporan intelijen dan militer dari berbagai sumber mengindikasikan bahwa pasukan Rusia telah mengintensifkan serangannya di sejumlah wilayah strategis. Kemajuan yang paling menonjol terjadi di sektor timur, khususnya di sekitar kota-kota kunci di Donbas, serta tekanan yang terus-menerus di wilayah Kharkiv dan selatan Ukraina. Moskow dilaporkan mengerahkan kekuatan artileri yang masif dan serangan udara untuk menembus pertahanan Ukraina yang telah melemah.
“Pasukan Rusia terus-menerus menekan pertahanan kami, mencoba memanfaatkan setiap celah. Pertempuran sengit terjadi setiap hari, dan kebutuhan kami akan amunisi serta sistem pertahanan udara semakin mendesak,” ujar seorang pejabat militer Ukraina yang tidak ingin disebutkan namanya, seperti dikutip pada 06 December 2025. Kekurangan pasokan dari sekutu Barat, yang sebagian disebabkan oleh kendala politik internal di beberapa negara, memperparah situasi ini, membuat pasukan Ukraina sulit mempertahankan posisi atau melancarkan serangan balasan yang berarti.
Analis militer menilai bahwa kemajuan Rusia, meskipun lambat di beberapa area, bersifat strategis dan bertujuan untuk mengikis moral serta kemampuan tempur Ukraina secara bertahap. Ini merupakan periode paling sulit bagi Kyiv sejak awal invasi skala penuh pada Februari 2022.
Buntu Diplomatik di Tengah Tekanan Internasional
Di tengah eskalasi militer, upaya diplomatik untuk meredakan konflik tampak menemui jalan buntu. Presiden Vladimir V. Putin telah secara eksplisit menyatakan bahwa ia tidak akan menyimpang dari tuntutan-tuntutan inti Kremlin, yang meliputi demiliterisasi Ukraina, status netral, serta pengakuan terhadap wilayah-wilayah yang dianeksasi Rusia sebagai bagian dari Federasi Rusia. Pernyataan ini muncul setelah serangkaian pembicaraan tingkat rendah dengan perwakilan Amerika Serikat, yang tampaknya tidak membuahkan hasil signifikan.
“Sikap Presiden Putin yang tidak bergeming menggarisbawahi realitas pahit bahwa Moskow saat ini merasa memiliki momentum di medan perang. Mereka tidak melihat alasan untuk berkompromi ketika mereka percaya dapat mencapai tujuan mereka melalui kekuatan militer. Ini menempatkan diplomasi pada posisi yang sangat sulit, karena tidak ada pihak yang bersedia membuat konsesi yang berarti,” kata Dr. Anya Sharma, pakar geopolitik dari think tank Global Policy Forum, dalam analisisnya 06 December 2025.
Di sisi lain, mantan Presiden AS Donald Trump telah menyuarakan rencananya untuk mencapai perdamaian di Ukraina dalam waktu 24 jam jika ia kembali menjabat. Meskipun rincian rencana tersebut masih samar, laporan-laporan mengindikasikan bahwa ia mungkin akan mendorong Ukraina untuk menyerahkan sejumlah wilayah kepada Rusia sebagai bagian dari kesepakatan damai. Proposal ini telah memicu kekhawatiran di kalangan sekutu Ukraina, yang khawatir hal itu akan menjadi konsesi yang tidak dapat diterima dan memberikan kemenangan yang tidak sah kepada agresor.
Pemerintahan Presiden Joe Biden sendiri tetap berkomitmen untuk mendukung kedaulatan dan integritas teritorial Ukraina, sambil terus berupaya menggalang bantuan militer dan finansial. Namun, tekanan domestik dan intrik politik di AS serta negara-negara Barat lainnya membuat masa depan dukungan ini menjadi semakin tidak pasti, menambah ketidakjelasan prospek perdamaian di Eropa Timur.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda
