Suriah Capai Titik Balik: Pasukan Assad Masuk Wilayah Kurdi, Mimpi Otonomi Meredup
DAMASKUS – 16 February 2026 – Tentara Nasional Suriah (SAA) di bawah rezim Presiden Bashar al-Assad dilaporkan telah membuat kemajuan signifikan ke wilayah-wilayah yang dikuasai Kurdi di bagian utara dan timur laut negara itu. Manuver militer ini menandai titik balik penting dalam konflik Suriah yang telah berlangsung lebih dari satu dekade, berpotensi menempatkan hampir seluruh wilayah negara di bawah otoritas tunggal Damaskus, namun dengan harga pupusnya impian otonomi bagi etnis Kurdi yang telah lama diperjuangkan.
Pergerakan pasukan pemerintah Suriah ini terjadi di tengah dinamika geopolitik yang kompleks, khususnya setelah penarikan sebagian besar pasukan Amerika Serikat dari wilayah tersebut dan operasi militer Turki yang menargetkan milisi Kurdi, Unit Perlindungan Rakyat (YPG), yang dianggap Ankara sebagai cabang dari kelompok teroris Partai Pekerja Kurdistan (PKK). Keputusan Kurdi untuk mendekati Damaskus adalah langkah pragmatis dalam menghadapi ancaman ganda dari Turki di satu sisi dan kekhawatiran akan penelantaran oleh sekutu Barat di sisi lain.
Konteks Konflik dan Peran Kurdi
Sejak pecahnya perang saudara Suriah pada 2011, kelompok-kelompok Kurdi di Suriah Utara, yang tergabung dalam Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dengan YPG sebagai intinya, telah berhasil membentuk administrasi otonom de facto. Mereka memerintah wilayah yang kaya minyak dan pertanian, dikenal sebagai Rojava atau Federasi Suriah Utara dan Timur, setelah mengusir kelompok teroris ISIS dengan dukungan udara dan logistik dari koalisi pimpinan AS.
Wilayah otonom ini menjadi simbol harapan bagi jutaan etnis Kurdi yang tersebar di beberapa negara dan telah lama mendambakan hak untuk menentukan nasib sendiri. Dengan sistem pemerintahan yang unik, berbasis pada demokrasi akar rumput dan kesetaraan gender, mereka telah membangun struktur masyarakat yang berbeda dari rezim otoriter Damaskus. Namun, otonomi ini tidak pernah diakui oleh pemerintah Suriah atau negara-negara regional, yang memandang langkah Kurdi sebagai upaya separatisme yang mengancam integritas teritorial Suriah.
Impian Otonomi yang Kandas
Masuknya SAA ke wilayah-wilayah Kurdi, seperti Manbij, Kobani, dan bagian-bagian lain di sepanjang perbatasan, secara efektif mengakhiri model pemerintahan mandiri yang telah dikembangkan oleh Kurdi. Meskipun kesepakatan spesifik antara Kurdi dan Damaskus belum diumumkan secara terbuka, kehadiran pasukan pemerintah Suriah di wilayah tersebut berarti kontrol atas keamanan, administrasi, dan sumber daya akan kembali ke tangan Damaskus. Bagi etnis Kurdi, ini adalah kehilangan yang mendalam setelah pengorbanan besar dalam perang melawan ISIS.
“Ini adalah pukulan telak bagi aspirasi kami yang telah lama diperjuangkan,” kata seorang analis politik yang akrab dengan dinamika Suriah, tidak ingin disebutkan namanya karena sensitivitas isu. “Setelah berkorban begitu banyak dalam perang melawan ISIS, kini kami melihat impian kami terkikis oleh realitas politik yang kejam. Kesepakatan ini, meski pahit, adalah upaya untuk menghindari genosida atau pembersihan etnis oleh pihak lain, namun mengorbankan visi masa depan yang kami bayangkan.”
Langkah ini juga membawa ketidakpastian besar bagi jutaan warga sipil di wilayah Kurdi, termasuk para pengungsi internal dan mantan pejuang ISIS yang ditahan di kamp-kamp dan penjara. Nasib ribuan pejuang SDF dan struktur pemerintahan Kurdi kini dipertaruhkan, dengan kekhawatiran akan kemungkinan represi atau pengembalian ke status quo pra-perang sipil di bawah rezim Assad.
Konsolidasi Kekuasaan dan Masa Depan Suriah
Bagi Presiden Assad dan pemerintahannya, pergerakan ini adalah kemenangan strategis yang monumental. Setelah lebih dari satu dekade konflik yang menguras tenaga, Damaskus kini semakin dekat untuk mengklaim kembali kendali atas hampir seluruh wilayah Suriah, kecuali beberapa kantung pemberontak di Idlib dan wilayah-wilayah kecil lainnya yang masih dikuasai kelompok oposisi dan didukung Turki.
Konsolidasi kekuasaan ini didukung penuh oleh sekutu-sekutu utama Suriah, yaitu Rusia dan Iran, yang telah memberikan dukungan militer dan politik krusial sepanjang konflik. Dengan mengamankan perbatasan timur dan utara serta mengintegrasikan kembali wilayah-wilayah yang dikuasai Kurdi, Assad dapat memproyeksikan citra stabilitas dan kontrol penuh, meskipun dengan tantangan besar untuk membangun kembali negara yang hancur.
Masa depan Suriah tetap tidak pasti. Meskipun konflik berskala besar mungkin mereda, ketegangan etnis, politik, dan regional kemungkinan besar akan terus bergejolak. Integrasi kembali wilayah Kurdi ke dalam kontrol Damaskus akan menjadi ujian besar bagi kemampuan pemerintah Suriah untuk mengatasi perbedaan dan membangun kembali kepercayaan di antara berbagai komunitas etnis dan agama. Dunia kini menanti bagaimana titik balik ini akan membentuk babak selanjutnya dalam sejarah panjang dan bergejolak di Suriah.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda
