Taliban Tantang Pakistan: Retaknya Ikatan Jihad, Gejolak Regional Mengancam Stabilitas
Kabul dan Islamabad, dua entitas yang dulunya terikat oleh ikatan ideologi dan kepentingan strategis, kini berada di ambang konfrontasi terbuka. Otoritas de facto Afghanistan di bawah pemerintahan Taliban secara blak-blakan menentang bekas sekutu mereka, militer Pakistan, menandai pergeseran fundamental dalam dinamika regional yang telah lama terbentuk. Permusuhan yang semakin intens ini tidak hanya mengancam stabilitas perbatasan, tetapi juga menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan aliansi geopolitik di Asia Selatan.
Pergeseran ini sangat mencolok mengingat sejarah panjang hubungan antara kedua belah pihak. Pakistan secara historis telah menjadi pendukung utama Taliban, menawarkan perlindungan dan dukungan selama bertahun-tahun ketika kelompok itu melancarkan pemberontakan melawan pemerintah yang didukung Barat di Afghanistan. Ikatan mereka, seringkali digambarkan sebagai “simbol jihad bersama,” kini menghadapi keretakan parah akibat kepentingan nasional yang berbeda dan tuduhan saling mencurigai.
Dari Sekutu Strategis Menjadi Rival Regional
Dalam beberapa bulan terakhir, ketegangan antara Taliban dan Pakistan telah meningkat tajam. Serangkaian insiden di perbatasan, termasuk baku tembak dan penutupan jalur perdagangan, telah memperburuk suasana. Islamabad menuduh Taliban gagal menahan Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP), kelompok militan yang bersekutu dengan Taliban Afghanistan dan bertanggung jawab atas gelombang serangan teroris di Pakistan. Sebaliknya, Taliban menuduh Pakistan melanggar kedaulatan mereka dan menggunakan retorika yang tidak proporsional.
Kementerian Luar Negeri Afghanistan, yang dikendalikan Taliban, telah mengeluarkan pernyataan keras yang mengecam Pakistan. Ini merupakan pembalikan dramatis dari masa lalu ketika mereka menghindari kritik publik terhadap Islamabad. Perubahan sikap ini mencerminkan kepercayaan diri Taliban yang meningkat pasca-pengambilalihan kekuasaan pada tahun 2021, serta kemauan mereka untuk memprioritaskan kepentingan nasional Afghanistan di atas ikatan historis atau ideologis.
Retaknya hubungan antara Taliban dan Pakistan bukan hanya sekadar perselisihan perbatasan biasa. Ini adalah cerminan dari pergeseran fundamental dalam kepentingan geopolitik kedua negara, di mana ideologi bersama kini harus bersaing dengan realitas kedaulatan dan keamanan nasional yang berbeda. Hal ini memiliki implikasi serius bagi stabilitas kawasan, ujar seorang analis keamanan regional pada 17 November 2025.
Penyebab Retaknya Hubungan
Beberapa faktor kunci telah berkontribusi pada keretakan ini. Pertama, isu TTP adalah titik nyala utama. Pakistan menganggap kehadiran dan kebebasan bergerak TTP di wilayah Afghanistan sebagai ancaman eksistensial bagi keamanannya. Mereka menuntut tindakan tegas dari Taliban, yang sejauh ini enggan atau tidak mampu untuk sepenuhnya membubarkan kelompok tersebut, sebagian karena ikatan ideologis dan kesukuan yang mendalam.
Kedua, sengketa perbatasan, khususnya mengenai Garis Durand, garis batas yang disengketakan antara kedua negara, terus memicu friksi. Taliban tidak mengakui Garis Durand sebagai perbatasan internasional yang sah, yang bertentangan dengan posisi Pakistan. Pembangunan pagar perbatasan oleh Pakistan dan upaya Taliban untuk menghancurkannya telah menjadi sumber ketegangan yang berulang.
Ketiga, ada faktor ekonomi dan geopolitik yang lebih luas. Pakistan, yang menghadapi tantangan ekonomi serius, semakin frustrasi dengan gangguan perdagangan di perbatasan dan gelombang pengungsi Afghanistan yang terus berdatangan. Sementara itu, Taliban berusaha menegaskan otonominya di panggung internasional, meskipun terbatas, dan enggan untuk terlihat sebagai sekutu junior Pakistan.
Ke depan, prospek hubungan antara Afghanistan dan Pakistan tampaknya akan tetap tegang. Tanpa resolusi terhadap isu-isu mendasar seperti TTP dan sengketa perbatasan, eskalasi lebih lanjut tidak dapat dikesampingkan. Hubungan yang dulu dibangun di atas fondasi ideologi yang sama kini menghadapi ujian berat, dengan potensi konsekuensi yang signifikan bagi stabilitas di seluruh Asia Selatan.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda
