Terungkap: Jenazah Korban Protes Iran Diduga Diperlakukan Tidak Hormat di Pemakaman
TEHERAN, IRAN – Kesaksian memilukan dari keluarga korban dan rekaman video yang beredar luas di media sosial dari pemakaman terbesar di Teheran, Behesht-e Zahra, telah memicu kemarahan publik. Bukti-bukti yang muncul menunjukkan dugaan perlakuan tidak hormat terhadap jenazah para korban menyusul tindakan keras brutal pemerintah terhadap demonstran anti-pemerintah.
Peristiwa ini terjadi di tengah gelombang protes nasional yang dipicu oleh berbagai isu, termasuk hak asasi manusia, kebebasan sipil, dan kondisi ekonomi. Demonstrasi yang awalnya damai sering kali berakhir dengan konfrontasi kekerasan, yang dilaporkan menewaskan ratusan orang dan menahan ribuan lainnya oleh pasukan keamanan.
Kesaksian Mengejutkan dari Pemakaman Behesht-e Zahra
Menurut laporan dari saksi mata dan analisis video, jenazah korban protes sering kali diserahkan kepada keluarga dalam keadaan tergesa-gesa, tanpa upacara atau ritual keagamaan yang layak sesuai tradisi Islam dan Iran. Beberapa keluarga bahkan melaporkan bahwa mereka dipaksa untuk menandatangani dokumen yang menyatakan bahwa kematian kerabat mereka disebabkan oleh kecelakaan atau penyebab lain, bukan kekerasan oleh aparat keamanan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran serius tentang upaya sistematis untuk menutupi skala dan sifat kekerasan yang digunakan selama penumpasan protes.
Saksi mata menggambarkan pemandangan yang kacau dan penuh tekanan di kompleks pemakaman. Kehadiran aparat keamanan yang mencolok, termasuk milisi paramiliter, dilaporkan sering mengintimidasi keluarga yang berduka, menghalangi mereka untuk melakukan prosesi pemakaman secara tenang dan bermartabat. Beberapa laporan juga menyebutkan bahwa jenazah dimakamkan secara massal atau di lokasi yang dirahasiakan, mempersulit keluarga untuk mengunjungi atau mengidentifikasi makam orang yang mereka cintai.
“Ini bukan hanya tentang kematian, ini tentang upaya untuk menghilangkan martabat dan jejak perlawanan, bahkan setelah kehidupan berakhir. Mereka ingin kami lupa, tapi kami tidak akan pernah melupakan apa yang terjadi pada anak-anak kami,” ujar seorang kerabat korban yang enggan disebutkan namanya karena takut akan pembalasan, mencerminkan kekecewaan mendalam yang dirasakan banyak orang.
Implikasi dan Peningkatan Ketegangan
Perlakuan yang diduga tidak hormat terhadap jenazah korban ini telah menambah daftar panjang pelanggaran hak asasi manusia yang dituduhkan kepada pemerintah Iran. Tindakan tersebut tidak hanya melukai perasaan keluarga yang berduka tetapi juga berpotensi memicu gelombang kemarahan baru di kalangan masyarakat yang sudah frustrasi. Bagi banyak warga Iran, menghormati jenazah adalah bagian fundamental dari budaya dan agama mereka, dan pelanggaran terhadap norma ini dianggap sebagai penghinaan yang sangat besar.
Organisasi hak asasi manusia internasional telah menyuarakan keprihatinan serius atas laporan-laporan ini, menyerukan penyelidikan independen terhadap semua kematian terkait protes dan perlakuan terhadap jenazah. Mereka juga mendesak pemerintah Iran untuk menghormati hak-hak keluarga korban untuk berduka dan melakukan upacara pemakaman sesuai keyakinan mereka, tanpa campur tangan atau intimidasi.
Pada 23 January 2026, situasi di Iran tetap tegang. Laporan mengenai perlakuan tidak hormat terhadap jenazah korban protes ini, bersama dengan tuntutan keadilan yang belum terpenuhi, terus memperkeruh hubungan antara pemerintah dan rakyatnya. Dunia internasional mengamati dengan cermat perkembangan di negara itu, menuntut transparansi dan akuntabilitas atas tindakan keras yang telah merenggut banyak nyawa.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda
