Juventus Menggila di Meazza: Kontroversi VAR dan Kartu Merah Kalulu Guncang Derby d’Italia
Kekalahan pahit 2-3 Juventus dari rival abadi Inter Milan dalam laga panas Serie A di Stadion Giuseppe Meazza pada 15 February 2026 menyisakan bara api kontroversi yang membakar kubu Si Nyonya Tua. Keputusan wasit yang berujung pada kartu merah bek muda Pierre Kalulu menjadi pemicu kemarahan, dengan kapten Giorgio Chiellini memimpin desakan evaluasi menyeluruh terhadap sistem Video Assistant Referee (VAR) yang dinilai merugikan timnya.
Pertandingan bertajuk ‘Derby d’Italia’ itu memang selalu menjanjikan drama, namun kali ini, tensi memuncak bukan hanya karena rivalitas sengit di lapangan, melainkan juga akibat serangkaian keputusan krusial yang dianggap tidak adil oleh pihak Juventus. Kekalahan ini tidak hanya berarti kehilangan tiga poin berharga dalam perburuan Scudetto, tetapi juga menciptakan gelombang protes keras dari manajemen, staf pelatih, hingga para pemain.
Kontroversi Kartu Merah: Titik Balik Pertandingan
Insiden krusial yang menjadi sorotan utama terjadi pada pertengahan babak kedua, tepatnya saat kedudukan masih imbang 2-2. Bek muda andalan Juventus, Pierre Kalulu, dihukum kartu merah langsung setelah dianggap melakukan pelanggaran fatal terhadap penyerang Inter di luar kotak penalti. Keputusan ini, yang diambil setelah tinjauan VAR yang cukup lama dan alot, mengubah dinamika pertandingan secara drastis.
Dengan sepuluh pemain di lapangan, Juventus harus berjuang mati-matian menahan gempuran Inter. Meskipun menunjukkan semangat juang yang luar biasa, kekurangan satu pemain akhirnya terasa memberatkan. Inter berhasil memanfaatkan keunggulan jumlah pemain mereka untuk mencetak gol kemenangan di menit-menit akhir, memastikan tiga poin krusial tetap berada di Giuseppe Meazza dan membuat Juventus pulang dengan tangan hampa serta hati yang hancur.
Ini bukan tentang satu keputusan saja, tetapi tentang konsistensi. VAR seharusnya membantu membuat pertandingan lebih adil, bukan menciptakan lebih banyak kebingungan dan frustrasi. Kami perlu duduk bersama dan mengevaluasi bagaimana sistem ini diterapkan, karena saat ini, rasanya ada terlalu banyak subjektivitas yang merugikan tim, tegas Giorgio Chiellini dengan nada geram dalam konferensi pers pasca-pertandingan, menyuarakan kekecewaannya yang mendalam.
Desakan Evaluasi VAR dan Implikasinya
Desakan Chiellini untuk evaluasi VAR bukan kali pertama disuarakan di kancah sepak bola Italia, bahkan Eropa. Sejak diperkenalkan, teknologi ini memang kerap memicu perdebatan sengit terkait interpretasi wasit, durasi peninjauan, dan konsistensi penerapannya. Insiden kartu merah Kalulu kini menjadi salah satu kasus terbaru yang menambah panjang daftar kontroversi yang mengikis kepercayaan publik terhadap sistem yang seharusnya meningkatkan keadilan dalam sepak bola ini.
Bagi Juventus, kekalahan ini tidak hanya merusak kebanggaan dalam ‘Derby d’Italia’, tetapi juga memberikan pukulan telak dalam perburuan gelar Serie A musim ini. Jarak poin dengan puncak klasemen semakin melebar, dan momentum positif yang sempat mereka bangun kini terancam goyah. Manajer Massimiliano Allegri, meski enggan berkomentar terlalu banyak mengenai wasit, menyatakan bahwa timnya akan menganalisis pertandingan secara mendalam dan fokus memperbaiki diri.
Namun, jelas bahwa bagi Juventus dan para penggemarnya, luka akibat kekalahan di Meazza ini akan sulit sembuh, apalagi jika dibayangi oleh keputusan kontroversial yang diyakini merugikan mereka. Insiden ini kemungkinan besar akan memicu diskusi lebih lanjut di kalangan pengelola liga dan federasi sepak bola terkait masa depan dan implementasi VAR yang lebih efektif dan konsisten.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda
