Kartu Merah Hantam Ambisi Comeback PSIM, PSBS Biak Melaju di Liga 2
YOGYAKARTA – Harapan PSIM Yogyakarta untuk bangkit dari ketertinggalan di kandang sendiri harus sirna setelah insiden kartu merah menjadi titik balik krusial dalam laga sengit kontra PSBS Biak. Dalam duel lanjutan Liga 2 yang berlangsung di Stadion Sultan Agung, Bantul, Senin (29/12/2025), Laskar Mataram dipaksa mengakui keunggulan Badai Pasifik dengan skor akhir 2-1, sebuah hasil yang berdampak signifikan pada peta persaingan di papan atas.
Kekalahan ini, yang diwarnai dengan keluarnya salah satu pemain PSIM di babak kedua, membuat upaya comeback mereka terhambat dan meninggalkan pekerjaan rumah besar bagi tim kebanggaan warga Yogyakarta ini. PSBS Biak, di sisi lain, berhasil mengamankan tiga poin penting yang memperkokoh posisi mereka di jalur promosi.
Drama di Stadion Sultan Agung: Gol Cepat dan Kartu Merah Kontroversial
Pertandingan yang digelar di bawah guyuran hujan ringan sejak awal babak kedua tersebut dimulai dengan tempo tinggi. PSBS Biak, yang datang dengan kepercayaan diri tinggi, langsung tancap gas dan berhasil mencetak gol pembuka di menit ke-15 melalui skema serangan balik cepat yang diselesaikan dengan dingin oleh penyerang andalan mereka, Alexandro Ferreira. Keunggulan tersebut berlanjut ketika Yohanis Nabar menggandakan kedudukan menjadi 2-0 di menit ke-38, memanfaatkan kelengahan lini belakang PSIM.
Tertinggal dua gol, PSIM Yogyakarta mencoba merespons. Dukungan penuh dari ribuan suporter yang memadati Stadion Sultan Agung memicu semangat juang anak asuh Kas Hartadi. Mereka berhasil memperkecil ketertinggalan menjadi 2-1 di penghujung babak pertama melalui sundulan krusial dari sang kapten, Hariono, yang memanfaatkan sepak pojok. Gol tersebut menghidupkan kembali harapan untuk bangkit di babak kedua.
Namun, momentum positif PSIM harus terganggu di awal babak kedua. Pada menit ke-55, gelandang PSIM, Achmad Subagja, diganjar kartu merah langsung oleh wasit setelah melakukan tekel keras terhadap pemain PSBS. Keputusan kontroversial ini sontak memicu protes keras dari bangku cadangan PSIM dan juga para suporter. Bermain dengan 10 pemain, Laskar Mataram kesulitan mengembangkan permainan dan menciptakan peluang berarti di sisa waktu pertandingan, meskipun mereka terus berjuang gigih.
“Kami sudah berusaha maksimal, bahkan setelah kartu merah pun anak-anak menunjukkan semangat juang yang luar biasa. Namun, keputusan itu (kartu merah) mengubah segalanya. Rasanya kami dirugikan, dan itu menghancurkan momentum kami untuk bangkit,” ujar Kas Hartadi, pelatih PSIM, dengan nada frustrasi dalam konferensi pers usai pertandingan pada 29 December 2025.
Dampak Hasil dan Langkah Selanjutnya Bagi Kedua Tim
Kemenangan ini menjadi bukti dominasi PSBS Biak di kompetisi Liga 2 musim ini. Pelatih PSBS, Regi Aditya, mengungkapkan rasa syukurnya atas performa tim yang konsisten dan berhasil mencuri poin penuh di kandang lawan. “Ini adalah hasil kerja keras seluruh tim. Kami tahu PSIM adalah lawan yang tangguh, terutama di kandang. Tiga poin ini sangat penting untuk menjaga posisi kami di puncak,” ujarnya singkat.
Bagi PSIM Yogyakarta, kekalahan ini tentu menjadi pukulan telak. Mereka kini harus bekerja lebih keras untuk mengejar ketertinggalan dan memperbaiki posisi di klasemen. Dengan jadwal yang semakin padat, fokus dan mentalitas tim akan sangat diuji. Pertandingan selanjutnya akan menjadi krusial bagi PSIM untuk kembali ke jalur kemenangan dan menjaga asa mereka untuk promosi ke Liga 1.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa insiden kartu merah tidak hanya merugikan PSIM dari segi jumlah pemain di lapangan, tetapi juga secara psikologis. Kejadian tersebut mengganggu ritme permainan dan konsentrasi tim saat sedang dalam fase mengejar ketertinggalan. Pertandingan ini menjadi pengingat betapa ketatnya persaingan di Liga 2, di mana setiap keputusan dan setiap insiden dapat menentukan hasil akhir sebuah laga krusial.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda
