Kontroversi Rasisme Guncang Liga Champions: Prestianni Dikecam Keras atas Insiden Vinicius
Dugaan Insiden Rasisme Kembali Coreng Liga Champions
Sebuah insiden dugaan rasisme kembali mencoreng dunia sepak bola, kali ini di panggung prestisius Liga Champions. Gianluca Prestianni, pemain muda Benfica, menjadi sorotan tajam setelah dituding melontarkan ujaran rasis kepada bintang Real Madrid, Vinicius Junior, dalam laga yang berlangsung pada musim 2025/2026. Kecaman keras datang dari berbagai pihak, termasuk mantan bek Manchester City dan pundit sepak bola terkemuka, Micah Richards, yang secara terbuka menyebut tindakan Prestianni sebagai ‘pengecut’ dan tidak dapat ditoleransi.
Insiden yang memicu gelombang kemarahan ini dilaporkan terjadi pada 18 February 2026 malam, selama pertandingan sengit fase grup Liga Champions antara Benfica dan Real Madrid. Menurut laporan awal dari beberapa sumber yang berada di lokasi, Prestianni diduga melontarkan komentar bernada rasis saat Vinicius Junior berada di dekat bangku cadangan Benfica. Meskipun detail spesifik dari ujaran tersebut masih dalam penyelidikan, gestur dan konteksnya cukup untuk menarik perhatian dan memicu reaksi dari para saksi serta kamera televisi yang menyorot pertandingan.
Vinicius Junior, yang telah berkali-kali menjadi target serangan rasis dalam beberapa tahun terakhir, tampak merespons insiden tersebut dengan ekspresi kekecewaan mendalam, meskipun ia tetap melanjutkan pertandingan hingga usai. Peristiwa ini semakin memperpanjang daftar kasus rasisme yang menimpa bintang asal Brasil tersebut, menyoroti masalah yang belum terselesaikan dalam dunia sepak bola global.
Reaksi Keras Micah Richards dan Tuntutan Tindakan Tegas
Micah Richards, yang dikenal vokal dalam isu-isu sosial di sepak bola, tak menahan diri dalam komentarnya. Berbicara di salah satu siaran analisis pasca-pertandingan, Richards menyatakan kekecewaannya yang mendalam terhadap insiden tersebut, menyerukan tindakan tegas dan tanpa kompromi dari otoritas sepak bola.
Ini benar-benar memuakkan dan pengecut, kata Richards dengan nada geram. Vinicius Junior telah berkali-kali menjadi sasaran perilaku menjijikkan ini, dan sudah waktunya bagi mereka yang melakukan tindakan rasisme untuk menghadapi konsekuensi yang sangat serius. Tindakan seperti itu tidak punya tempat di sepak bola atau di masyarakat manapun.
Kecaman Richards mencerminkan sentimen yang berkembang di seluruh komunitas sepak bola, yang semakin menyerukan tindakan proaktif dan sanksi yang lebih berat terhadap pelaku rasisme. UEFA, sebagai badan pengatur Liga Champions, diharapkan segera melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap dugaan insiden ini. Hukuman yang mungkin dijatuhkan bisa bervariasi, mulai dari denda besar, larangan bermain bagi Prestianni, hingga sanksi bagi klub Benfica jika terbukti ada kelalaian.
Baik Benfica maupun Real Madrid juga dituntut untuk mengeluarkan pernyataan resmi dan bekerja sama penuh dalam proses penyelidikan. Klub-klub besar Eropa semakin didesak untuk mengambil sikap yang lebih proaktif dalam memerangi rasisme, tidak hanya melalui kampanye kesadaran tetapi juga dengan menerapkan protokol yang ketat dan respons cepat terhadap setiap insiden. Organisasi anti-rasisme di sepak bola menyerukan agar edukasi dan sanksi yang lebih berat diterapkan untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.
Insiden Prestianni dan Vinicius adalah pengingat pahit bahwa perjuangan melawan rasisme dalam sepak bola masih jauh dari selesai. Peristiwa ini menekankan pentingnya komitmen kolektif dari pemain, klub, federasi, dan penggemar untuk memastikan olahraga ini tetap menjadi ajang yang inklusif, dihormati, dan bebas dari segala bentuk diskriminasi.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda
