Delhi Tercekik Polusi Udara: Ibu Kota India Hadapi Krisis Lingkungan Kronis
New Delhi, ibu kota India yang ambisius, terus bergulat dengan salah satu masalah lingkungan paling mendesak di dunia: polusi udara kronis. Meskipun India semakin menancapkan posisinya sebagai kekuatan global yang sedang naik daun, langit kelabu di atas kota metropolitan berpenduduk padat ini menjadi pengingat pahit akan tantangan internal yang mengancam kesehatan jutaan warga dan reputasi negara. Pada 30 November 2025, kota ini kembali diselimuti kabut asap beracun, mendorong kekhawatiran baru tentang efektivitas upaya pemerintah.
Ancaman Kesehatan dan Perekonomian yang Mendesak
Tingkat polusi udara di New Delhi secara konsisten menempatkannya di antara kota-kota paling tercemar di dunia, seringkali melampaui batas aman yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berkali-kali lipat. Partikel halus (PM2.5) yang memenuhi udara kota telah dikaitkan dengan peningkatan kasus penyakit pernapasan akut dan kronis, termasuk asma, bronkitis, dan kanker paru-paru. Anak-anak dan lansia adalah kelompok yang paling rentan, dengan banyak yang mengalami gangguan tumbuh kembang dan memperburuk kondisi kesehatan yang sudah ada.
“Udara yang kami hirup di sini ibarat merokok berbungkus-bungkus rokok setiap hari. Dampaknya pada kesehatan masyarakat sangat mengerikan, terutama bagi anak-anak dan lansia,” kata Dr. Ramesh Gupta, seorang ahli pulmonologi terkemuka di Delhi, menggambarkan situasi yang memprihatinkan.
Dampak krisis ini tidak hanya terbatas pada kesehatan. Sektor perekonomian juga merasakan dampaknya. Produktivitas menurun karena peningkatan hari sakit dan masalah kesehatan pekerja. Sektor pariwisata terganggu, dengan wisatawan yang semakin enggan mengunjungi kota yang dikenal dengan kualitas udaranya yang buruk. Biaya perawatan kesehatan yang melonjak membebani anggaran rumah tangga dan sistem kesehatan publik, menciptakan lingkaran setan yang sulit diputus.
Akar Masalah dan Respons Pemerintah yang Belum Memadai
Penyebab polusi udara di New Delhi bersifat multifaktorial dan kompleks. Emisi kendaraan bermotor menjadi salah satu kontributor utama, diperparah oleh pertumbuhan populasi dan jumlah kendaraan yang pesat. Selain itu, polusi industri dari pabrik-pabrik di sekitar ibu kota, pembakaran sampah terbuka, debu konstruksi yang tidak terkendali, dan pembakaran sisa tanaman di negara bagian tetangga selama musim dingin turut memperparah kondisi. Faktor geografis dan meteorologi, seperti kondisi tanpa angin (inversi termal) pada musim dingin, memerangkap polutan di lapisan atmosfer bawah, menciptakan fenomena kabut asap tebal.
Pemerintah India dan pemerintah wilayah Delhi telah meluncurkan berbagai inisiatif untuk mengatasi masalah ini, seperti skema ganjil-genap untuk kendaraan, larangan penggunaan bahan bakar tertentu, dan upaya untuk mengendalikan pembakaran jerami. Namun, efektivitas langkah-langkah ini sering kali terhambat oleh masalah implementasi, kurangnya koordinasi antarlembaga, dan resistensi dari berbagai sektor ekonomi. Kurangnya infrastruktur transportasi publik yang memadai dan ketergantungan pada batu bara untuk pembangkit listrik juga menjadi hambatan besar dalam mencapai perubahan yang signifikan.
Masa depan New Delhi, dan bahkan posisi India di panggung dunia, sangat bergantung pada kemampuannya mengatasi krisis polusi udara ini secara berkelanjutan. Tanpa langkah-langkah drastis dan terkoordinasi, janji India sebagai kekuatan global mungkin akan terus terhalangi oleh awan asap beracun yang menyelimuti ibu kotanya.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda
