Mantan Sandera Hamas Ungkap Klaim Pelecehan Seksual Selama Penahanan di Gaza
TEL AVIV – Guy Gilboa-Dalal, seorang warga Israel yang baru-baru ini dibebaskan dari penahanan Hamas di Gaza, telah menyampaikan pengakuan mengejutkan dan mengerikan mengenai pengalamannya. Menurut klaimnya, Gilboa-Dalal menjadi korban pelecehan seksual oleh salah satu penculiknya di dalam terowongan Gaza, disertai ancaman kematian jika ia berani mengungkapkan perlakuan tersebut.
Pengakuan Mengejutkan dari Tawanan
Gilboa-Dalal, yang menjadi salah satu dari ratusan sandera yang ditangkap Hamas dalam serangan lintas batas pada 7 Oktober 2023, kini telah kembali ke Israel setelah masa penahanan yang tidak diketahui lamanya. Kisah-kisah para sandera yang dibebaskan secara bertahap muncul, seringkali mengungkapkan kondisi yang sangat sulit dan trauma mendalam. Namun, klaim Gilboa-Dalal tentang pelecehan seksual menambah dimensi yang lebih gelap dan memilukan terhadap narasi tersebut.
Pernyataan Gilboa-Dalal menjadi sorotan karena menyoroti potensi pelanggaran hak asasi manusia yang serius di tengah konflik yang sedang berlangsung. Detail pengakuan ini, meskipun belum dapat diverifikasi secara independen mengingat kondisi di Gaza, telah memicu kemarahan dan keprihatinan luas di tingkat nasional maupun internasional.
“Guy Gilboa-Dalal mengatakan ia dilecehkan secara seksual oleh salah satu penculiknya di terowongan Gaza dan diancam akan dibunuh jika ia mengatakan apa pun.”
Ancaman kematian yang menyertai pelecehan tersebut menggarisbawahi upaya untuk membungkam para korban dan mencegah pengungkapan kejahatan yang mungkin terjadi di bawah tanah Gaza. Kasus ini menambah desakan bagi lembaga internasional untuk mendapatkan akses penuh dan tak terbatas ke semua sandera yang masih ditahan, serta untuk melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap laporan-laporan semacam ini.
Konteks Konflik dan Seruan Internasional
Serangan 7 Oktober lalu, yang melibatkan penyusupan militan Hamas ke wilayah Israel, mengakibatkan kematian lebih dari 1.200 orang dan penyanderaan sekitar 250 orang. Meskipun beberapa sandera telah dibebaskan melalui kesepakatan pertukaran atau operasi militer, sebagian besar masih ditahan di Gaza per 03 February 2026. Kondisi mereka sangat mengkhawatirkan, dengan banyak laporan mengenai kurangnya perawatan medis, makanan, dan sanitasi yang layak.
Klaim pelecehan seksual seperti yang diungkapkan oleh Gilboa-Dalal, jika terbukti benar, dapat digolongkan sebagai kejahatan perang di bawah hukum internasional. Berbagai organisasi hak asasi manusia dan pemerintah di seluruh dunia telah menyerukan pembebasan segera dan tanpa syarat semua sandera, serta menuntut agar perlakuan terhadap mereka mematuhi Konvensi Jenewa.
Pemerintah Israel telah berulang kali menyatakan bahwa Hamas bertanggung jawab penuh atas keselamatan dan kesejahteraan para sandera. Sementara itu, Hamas sendiri secara konsisten membantah tuduhan perlakuan tidak manusiawi terhadap sandera dan mengklaim memperlakukan mereka sesuai dengan ajaran Islam. Namun, kurangnya akses bagi pihak ketiga independen membuat verifikasi klaim dari kedua belah pihak menjadi sangat sulit.
Kasus Gilboa-Dalal ini kembali menekankan urgensi penyelesaian konflik dan pembebasan seluruh sandera, serta pentingnya akuntabilitas bagi setiap pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi selama penahanan.
Kunjungi halaman utama kami untuk berita terbaru lainnya 👉
Beranda
